Next

Senin, 13 Februari 2017

IBU

Ibu, Surat Ini Untukmu

Teruntuk wanita yang kasihnya sepanjang masa,

Ibu, surat ingin ini kutujukan padamu. Aku tak pernah menduga sebelumnya, menuliskan sesuatu tentangmu, Ibu, lebih sulit dari yang kukira.
Haruskah aku menanyakan kabarmu terlebih dahulu, seperti pembuka surat pada umumnya? Meski aku tau, kau dalam keadaan yang kuarng baik. Setidaknya itulah yang terlihat di mataku, dan kuharap segera kau di berikan kesembuhan.
Sejujurnya, aku sedikit enggan menuliskan surat ini untukmu. Mengapa? Karena aku yakin akan ada air mata di dalamnya. Sungguh, apa-apa yang berhubungan denganmu, Ibu, selalu menjadi pemicu nomor satu timbulnya anak sungai di mataku. Dan meski tanpa kutuliskan surat untukmu pun, kau tau cintaku padamu begitu rimbun.
Tapi pada akhirnya, aku memutuskan untuk menulis surat pertamaku untukmu. Karena ada beberapa hal yang tak bisa, atau mungkin aku tak berani, untuk mengatakannya. Lagi pula, perihal menulis apa-apa tentangmu pun terkadang seperti cinta; tak membutuhkan alasan untuk melakukannya.
Jam di ponselku menunjukkan pukul dua belas malam lewat satu jam tiga puluh tiga menit ketika aku menuliskan surat ini, dan aku masih sepenuhnya terjaga. Sedangkan kau sudah merebahkan lelahmu sejak beberapa jam yang lalu. Tidurmu tidak begitu pulas, ada beberapa batuk yang mengiringi di sela-selanya.
Dengan surat ini, Ibu, aku ingin mengucapkan berjuta-juta terima kasih. Meski aku tau, sebanyak apapun terima kasih yang ku ucap, tak pernah cukup untuk menandingi kasih dan pelukmu yang begitu hangat. Terima kasih pula untuk setiap doa-doamu untukku yang senantiasa mengangkasa tanpa henti, untuk segala peluh yang membanjiri, serta seluruh pengorbanan yang kau beri.
Pun, aku ingin menghaturkan berjuta-juta kata maaf. Meski aku paham, tanpa aku katakan pun cintamu untukku tak akan pernah karam. Maaf pula untuk setiap kata yang tiba-tiba keluar tanpa permisi, hingga terkadang membuat dadamu nyeri. Tapi maafmu selalu ada untukku yang tak tahu diri.
Rasanya aku ingin terus berbincang denganmu, Ibu, bercerita dan berkelakar mengenai banyak hal. Perihal seorang lelaki yang membuatku jatuh sejak tahun kedua di sekolah menengah, tugas kuliah yang tak berujung seperti bola, hingga hal-hal kecil seperti kemacetan sore hari yang membuatku jengah. Dan seperti biasa kau akan dengan setia selalu mendengarkanku bercerita, walau kau sendiri sebenarnya lelah.
Dan pada tiap waktu, izinkan aku untuk membagi seluruh bahagiaku, meluapkan tangisku yang tumpah ruah di pangkuanmu, serta terus memeluk lenganmu yang serupa tungku.
Sejujurnya, Ibu, ada lebih banyak perihal yang ingin kusampaikan padamu melalui surat ini. Tapi aku kira, satu malam saja tak akan cukup. Akan ada malam-malam yang lain, yang lebih panjang dari ini. Bahkan aku rasa, tak pernah cukup waktuku untuk menuliskan apa-apa tentangmu.
Maafkan pula untuk air mata yang akhirnya keluar meski aku mati-matian menahannya sepanjang menuliskan surat ini. Tak pernah henti pula semogaku untukmu agar engkau sehat selalu.
Ibu, satu hal lagi yang harus kau ketahui sebelum surat ini benar-benar ku akhiri. Meski cintaku begitu sunyi dan jarang sekali secara langsung kuakui, padamu, aku begitu menyayangi.
Dari Aku,
Seseorang yang mencintaimu dengan penuh.
p.s. ditulis di sebelah kamar Ibu pada pukul 02.13.

Senin, 02 Januari 2017

Selamat Tinggal

Menjadi bagian dari masa lalumu adalah sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Jangankan menjadi bagian dari masa lalu, menjadi bagian dari masa depan atau masa sekarangmu saja bukanlah sesuatu yang pernah terpikirkan.
Mengenalmu sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Aku mengenalmu lewat cerita-cerita yang kerap kudengar. Lewat tulisan-tulisanmu yang kerap kubaca.
Sebelumnya, tak pernah dengan sengaja aku mencari-cari. Kau dalam hidupku bukan sesuatu yang terpikirkan. Kau dalam hidupku hanya kenalan, kenalannya kenalan yang kebetulan saja sering kudengar ceritanya.
Lalu, saat dunia mempertemukan kita berdua, itu bukan rencanaku. Bisa jadi itu rencana dunia.
Kemudian, aku dan kau menjadi kita. Berteman dengan angin malam. Berteman dengan lembab hujan setiap sore. Berteman dengan sejuk embun pagi hari. Ada aku di setiap cerita tentangmu dan di setiap tulisanmu.
Dunia rasa-rasanya sedang menuliskan skenario terbaiknya untuk kita.
Lalu kau kemudian memilih pergi. Cerita-ceritamu tak pernah kudengar lagi. Tulisan-tulisanmu bukan sesuatu yang sangat ingin kubaca.
Kau bilang kau sudah tak bisa lagi ada di sini, bersamaku, menemaniku mencapai semua mimpiku. Sudah tak bisa membiarkanku ada di sampingmu, meraih capaian-capaian hidupmu.
Kau bilang aku tak mau untuk menungguku dan harus menemukan laki-laki lain yang mencintaimu dan selalu ada untukmu.  kau tahu ini akan menyakitiku telalu dalam, tapi kau sudah tak bisa lagi terlalu lama. Kau juga bilang, sama-sama bertahan akan menyakitiku lebih lagi. Menyakitimu juga. Pergilah sejauh apapun kau ingin pergi, berjalanlah sejauh mana kau ingin berjalan, istirahatlah bilamana ingin berhenti. Lalu, ingatlah kembali. Ke rumahmu kau akan kembali
Aku tak tahu lagi mana yang paling menyakitkan. Tetap bertahan atau melepasmu pergi. Atau menunggumu.
Yang manapun aku tetap tak mengerti, toh sama-sama menyakitkan. Tinggal memperbaiki hati yang harus dilakukan. Karena urusan hati dan menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang.
Ada orang-orang yang ditakdirkan Tuhan dalam hidup bukan untuk jadi pendamping, melainkan sekadar singgah. Mereka ajarkan kita apa yang harus kita tahu dan pelajari, lalu pergi. Beberapa di antaranya ada yang kembali, beberapa di antaranya ada yang tetap pergi

Selasa, 15 November 2016

Seperti ini KAU terekam di kepalaku

Seperti rintik gerimis pertama yang jatuh ke tanah musim semi
Seperti desir angin hangat yang terbang landai dari barat daya, lalu lembut menerpa wajah kita
Seperti sinar mentari yang menerobos sela-sela ranting pepohonan di hutan hujan
Seperti toko kecil yang setia buka di tengah badai salju
Seperti itulah kau terekam di dalam kepalaku saat kita pertama kali bertemu
Seperti hujan deras yang jatuh ke tanah berlumpur, membuat siapa pun tak ingin pergi kemana-mana
Seperti desir angin dingin yang terbang kencang dari timur laut, menerbangkan hati siapa saja yang pergi
Seperti matahari yang setia tertutup mendung tebal penuh kemurungan
Seperti bangunan kosong yang sengaja tak diinginkan pemiliknya
Seperti itulah kau terekam di dalam kepalaku saat kita terakhir kali bertemu.

Terima kasih untuk semua kenangan yang telah kau ciptakan
Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah kau curahkan
Semoga kelak kau mendapatkan semua apa yang kau harapkan,