Next

Rabu, 25 Maret 2015

Hingga Akhir

Saya tidak memikirkanmu di setiap waktu. Saya memikirkanmu di setiap doa

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang mempermasalahkan warna kemeja yang kamu pilih. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang mempermasalahkan siapa yang lebih banyak mengalah pada siapa. Aku juga tidak ingin menjadi suami yang harus bicara lantang, hanya agar didengarkan oleh anak-anak kita. Kita akan membesarkan mereka tanpa memberi mereka ketakutan pada hidup ini. Berjanjilah padaku.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa kamu sedang dicintai. Bahwa kamu punya rumah yang selalu menunggumu pulang. Bahwa kita selalu memiliki jeda yang bisa kita bagi saat bersama di dalamnya. Becerita tentang seberapa banyak manusia menyebalkan yang kamu temui hari ini, dan berapa jumlah lampu merah yang membuatmu lututmu lelah. Lalu kau akan bercerita tentang kesempatanmu cemberut saat harus mencuci ulang jemuran, karena hujan yang turun saat kau sedang terlelap tidur siang bersama anak kita. Aku ingin kamu tahu, bahwa kau adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan pilihan hidupnya.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa terkadang mengecewakan adalah bagian dari upaya kita bertahan hidup. Bahwa kamu punya aku yang akan tetap mencintaimu walau dalam kemarahanku yang paling pekat. Bahwa kita akan punya waktu untuk saling mengatakan hal buruk yang semestinya diungkapkan. Bahwa kita akan saling belajar memahami, bahwa ada kejujuran yang pahit saat ditelan—namun kita akan menelannya selayaknya obat. Saat kamu pulang kerja terlalu larut dan aku terlalu lelah untuk memakluminya. Dan saat kita berbohong untuk sesuatu yang tidak semestinya dilakukan. Hari di mana kita mengingat bahwa manusia, pada akhirnya hanyalah manusia.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik. Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa memaafkan adalah sebenarnya cinta yang bisa kita bagi. Hinga akhir.

Minggu, 22 Maret 2015

Segala Tentangmu

Ada hati yang kini mulai retak.
Ingin mengungkapkan, namun kepada siapa?
Bukankah memang ia tak pernah nyata?
Sang terkasih yang hanya bisa kumiliki sebagian saja.
Bahkan ia tak pernah menganggapku ada.
Hanya kepada rasa iba aku bertaruh demi serpihan hati yang telah berserakan.
Kepada kamu, yang menjadikan derita kian terasa.
Kepada kamu, pujaan hati yang pantas untuk dinanti.
Ini aku yang telah menjadi budakmu.
Kau tahu?
Mengejarmu tak semudah menyayat nadi ini hingga ada luka.
Namun, kehilanganmu jauh lebih pedih.
Bantulah aku sedikit saja.
Aku sadar hati ini hanya setengah dalam raga dan kamu pemilik sebagian lagi.
Dan jantungku adalah pusat segala tentangmu.
Memompa namamu dan perasaan dalam tiap nadiku.
:')

Jatuh Cinta

Kadang, perihal cinta selalu penuh canda.
Pernah kau bayangkan betapa bodohnya cinta pada pandangan pertama? Hahaha....

Mugkin mitos belaka.

Namun, salahkah aku ketika harus jatuh cinta?
Untuk yang pertama dalam hidup pada pandangan pertama.
Kurasa ego-ku berkata, "tidak".

Setidaknya, aku sadar inilah cinta.
Cinta manusia yang diawali tatap mata.
Sehingga dapat kurangkai dalam kata-kata.

Bagai kenangan dan bunga-bunga kecil.
Kini diriku sadar, pandanganku menyempit pada sosokmu yang membesar dalam rasa.
Aku pasrah saat lututku mencium lantai.

Demi kau yang menari dalam pikiranku.
Sekejap saja, hanya satu tatapan.

Aku jatuh cinta....

Minggu, 15 Maret 2015

Kepada Jarak

Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul berapa akan terus begini.
Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri. Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai. Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.
Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau baik-baik saja disana dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya kita dapat menuntaskan kerinduan ini, Aku juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang menunggumu selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum manja.
Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja kalau kita sudah saling bertemu. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama. Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.