Saya sedang rindu berbincang dengan perempuan yang bisa membuat saya ingin terus membicarakan banyak hal dengannya.
Saya sedang rindu makan dengan perempuan yang bisa membuat saya nyaman menambah nasi di piring saya–tanpa takut kalau besok celana saya mulai sempit.
Saya sedang rindu nonton dengan perempuan yang bisa duduk diam dan sabar di sisi saya–walau mungkin film yang kami tonton itu tidak menarik baginya
Saya sedang rindu berdiam dengan perempuan yang memahami bahwa hening tak selamanya sendirian. Karena kami terbiasa hening sembari membaca buku kesukaan kami masing-masing.
Saya sedang rindu dengan kamu yang lebih suka jalan jalan dan berburu makanan
Saya sedang rindu kamu yang tak perlu lagi diingatkan untuk berdoa pada Tuhan.
Iya. Saya. Rindu. Kamu.
perempuan paling spesial di mata saya saat ini
Kamis, 13 Agustus 2015
Jumat, 08 Mei 2015
Waktu
Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita
berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga
mata kita enggan untuk terbuka.
Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu.
Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu
akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk
berhenti.
Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan.
Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha
sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai
dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya
dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian
seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di
dalam harinya.
Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan.
Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima
keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan.
Sabtu, 18 April 2015
Senandung malam.
Aku ingin kembali ke malam saat bersamamu, saat tubuh ini tak
lepas dari pelukmu, dan mataku tak henti menatapmu, aku sebut itu
ketenangan.
Saat itu, aku ingin sekali bisa membaca isi otakmu, dan mencari, apa ada aku di dalamnya ?Dan inginku lagi, saat kedua jarum jam sama-sama berada di angka duabelas, aku harap semoga Tuhan menghentikan waktu untukku.
Untuk pertama kalinya, aku tak ingin pagi segera datang, biar, biarkanlah waktu diambil alih oleh malam, sebab aku menikmatinya.
Kau tahu, ternyata waktu ialah hal yang sangat batu, ia tak pernah bisa diajak berkompromi; walau aku mengiba, ia acuh, dan tetap berjalan.
Pada detik kesekian di malam itu, kecupanmu yang berkali mendarat di wajahku, ialah hal yang kupastikan terekam dalam ingatanku, selalu.
Dan aku merasakan panas; aku rasa ada yang telah terbakar, sesaat setelah kecupanmu bertubi-tubi mendarat di tiap jengkal tubuhku.
Malam dan waktu, ialah pasangan paling sempurna, yang menenggelamkan kita dalam suasana.
Kukira jantungku punya kelainan, aku tak bisa mengendalikan degupnya, seketika ia melamban, kemudian teratur, lalu terdengar begitu cepat.
Dan aku mulai curiga, jangan-jangan kamu mengambil alih kendali jantungku?
Jikapun iya, maka bisa kupastikan, degupnya akan berhenti jika kau meninggalkan ruang kendalimu.
Karenanya, kumohon singgahlah, tidak sebentar, dan tidak untuk sementara. Akan kubuatkan rumah untukmu bernaung, di dalam dada kiriku.
Ah, malam memang paling bisa menjadi racun di pikiranku, lihat saja aku, daritadi tak bisa mengendalikan penaku untuk terus menuliskanmu.
Padahal aku hanya minta, agar menit ini, di malam kemarin, untuk diulang kembali, dimana aku begitu menikmati, tenggelam dalam matamu.
Jika memang yang di dalam pikiran dan hatimu itu aku, kau pasti tahu, bahwa puisi ini memang kutulis untukmu. :)
Jumat, 17 April 2015
Kita Dan Realita
Kita seringkali membicarakan kelak,
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
yang harus diterima kepala.
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
yang harus diterima kepala.
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.
Senin, 13 April 2015
Kehendak hati, aku bisa apa?
Hujan turun lagi di tempat ini.
Membasahi tanah setelah kemarau panjang yang melukai hari.
Mirip dirimu yang datang saat aku diserang sepi.
Hadir dalam keringnya hati.
Mungkin kau tak pernah ingin mengerti.
Setidaknya kau harus tau dirimu selalu menjadi obat hati.
Resah dalam hati melanda saat ku berdiri melepas kau pergi.
Aku tak takut jarak, tak takut pula waktu yang membagi sepi.
Hanya ada sebesit kerinduan untuk menggengam tangannya.
Tanganmu yang lembut, yang mampu mengobati segala curiga maupun luka.
Saat sedih menghampiri.
Hujan badai tak segan menghantui.
Aku hanya mampu berdiri menanti.
Memandang langit, sampai kau datang bersama pelangi.
Apa aku salah menunggumu?
Saat aku lelah, aku semakin kuat, kuat dan terus bertahan.
Apa kah kau sama sepertiku?
Saat ku memeluk cinta, kaupun mendekapnya lebih erat & lebih kuat.
Apa aku bodoh menantimu?
Apa aku terlalu mengharapkanmu?
Atau memang inilah pelangi yang kutunggu-tunggu?
Ini kehendak hati, aku bisa apa?
Membasahi tanah setelah kemarau panjang yang melukai hari.
Mirip dirimu yang datang saat aku diserang sepi.
Hadir dalam keringnya hati.
Mungkin kau tak pernah ingin mengerti.
Setidaknya kau harus tau dirimu selalu menjadi obat hati.
Resah dalam hati melanda saat ku berdiri melepas kau pergi.
Aku tak takut jarak, tak takut pula waktu yang membagi sepi.
Hanya ada sebesit kerinduan untuk menggengam tangannya.
Tanganmu yang lembut, yang mampu mengobati segala curiga maupun luka.
Saat sedih menghampiri.
Hujan badai tak segan menghantui.
Aku hanya mampu berdiri menanti.
Memandang langit, sampai kau datang bersama pelangi.
Apa aku salah menunggumu?
Saat aku lelah, aku semakin kuat, kuat dan terus bertahan.
Apa kah kau sama sepertiku?
Saat ku memeluk cinta, kaupun mendekapnya lebih erat & lebih kuat.
Apa aku bodoh menantimu?
Apa aku terlalu mengharapkanmu?
Atau memang inilah pelangi yang kutunggu-tunggu?
Ini kehendak hati, aku bisa apa?
Rabu, 25 Maret 2015
Hingga Akhir
Saya tidak memikirkanmu di setiap waktu. Saya memikirkanmu di setiap doa
Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu
kehilangan dirimu sendiri. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang
mempermasalahkan warna kemeja yang kamu pilih. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang mempermasalahkan siapa yang lebih banyak mengalah pada siapa.
Aku juga tidak ingin menjadi suami yang harus bicara lantang, hanya agar
didengarkan oleh anak-anak kita. Kita akan membesarkan mereka tanpa
memberi mereka ketakutan pada hidup ini. Berjanjilah padaku.
Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu
lupa bahwa kamu sedang dicintai. Bahwa kamu punya rumah yang selalu
menunggumu pulang. Bahwa kita selalu memiliki jeda yang bisa kita bagi
saat bersama di dalamnya. Becerita tentang seberapa banyak manusia
menyebalkan yang kamu temui hari ini, dan berapa jumlah lampu merah yang
membuatmu lututmu lelah. Lalu kau akan bercerita tentang kesempatanmu
cemberut saat harus mencuci ulang jemuran, karena hujan yang turun saat kau sedang terlelap tidur siang bersama anak kita. Aku ingin kamu tahu,
bahwa kau adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan pilihan
hidupnya.
Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu
lupa bahwa terkadang mengecewakan adalah bagian dari upaya kita bertahan
hidup. Bahwa kamu punya aku yang akan tetap mencintaimu walau dalam
kemarahanku yang paling pekat. Bahwa kita akan punya waktu untuk saling
mengatakan hal buruk yang semestinya diungkapkan. Bahwa kita akan saling
belajar memahami, bahwa ada kejujuran yang pahit saat ditelan—namun
kita akan menelannya selayaknya obat. Saat kamu pulang kerja terlalu
larut dan aku terlalu lelah untuk memakluminya. Dan saat kita berbohong
untuk sesuatu yang tidak semestinya dilakukan. Hari di mana kita
mengingat bahwa manusia, pada akhirnya hanyalah manusia.
Minggu, 22 Maret 2015
Segala Tentangmu
Ada hati yang kini mulai retak.
Ingin mengungkapkan, namun kepada siapa?
Bukankah memang ia tak pernah nyata?
Sang terkasih yang hanya bisa kumiliki sebagian saja.
Bahkan ia tak pernah menganggapku ada.
Hanya kepada rasa iba aku bertaruh demi serpihan hati yang telah berserakan.
Kepada kamu, yang menjadikan derita kian terasa.
Kepada kamu, pujaan hati yang pantas untuk dinanti.
Ini aku yang telah menjadi budakmu.
Kau tahu?
Mengejarmu tak semudah menyayat nadi ini hingga ada luka.
Namun, kehilanganmu jauh lebih pedih.
Bantulah aku sedikit saja.
Aku sadar hati ini hanya setengah dalam raga dan kamu pemilik sebagian lagi.
Dan jantungku adalah pusat segala tentangmu.
Memompa namamu dan perasaan dalam tiap nadiku.
:')
Ingin mengungkapkan, namun kepada siapa?
Bukankah memang ia tak pernah nyata?
Sang terkasih yang hanya bisa kumiliki sebagian saja.
Bahkan ia tak pernah menganggapku ada.
Hanya kepada rasa iba aku bertaruh demi serpihan hati yang telah berserakan.
Kepada kamu, yang menjadikan derita kian terasa.
Kepada kamu, pujaan hati yang pantas untuk dinanti.
Ini aku yang telah menjadi budakmu.
Kau tahu?
Mengejarmu tak semudah menyayat nadi ini hingga ada luka.
Namun, kehilanganmu jauh lebih pedih.
Bantulah aku sedikit saja.
Aku sadar hati ini hanya setengah dalam raga dan kamu pemilik sebagian lagi.
Dan jantungku adalah pusat segala tentangmu.
Memompa namamu dan perasaan dalam tiap nadiku.
:')
Jatuh Cinta
Kadang, perihal cinta selalu penuh canda.
Pernah kau bayangkan betapa bodohnya cinta pada pandangan pertama? Hahaha....
Mugkin mitos belaka.
Namun, salahkah aku ketika harus jatuh cinta?
Untuk yang pertama dalam hidup pada pandangan pertama.
Kurasa ego-ku berkata, "tidak".
Setidaknya, aku sadar inilah cinta.
Cinta manusia yang diawali tatap mata.
Sehingga dapat kurangkai dalam kata-kata.
Bagai kenangan dan bunga-bunga kecil.
Kini diriku sadar, pandanganku menyempit pada sosokmu yang membesar dalam rasa.
Aku pasrah saat lututku mencium lantai.
Demi kau yang menari dalam pikiranku.
Sekejap saja, hanya satu tatapan.
Aku jatuh cinta....
Pernah kau bayangkan betapa bodohnya cinta pada pandangan pertama? Hahaha....
Mugkin mitos belaka.
Namun, salahkah aku ketika harus jatuh cinta?
Untuk yang pertama dalam hidup pada pandangan pertama.
Kurasa ego-ku berkata, "tidak".
Setidaknya, aku sadar inilah cinta.
Cinta manusia yang diawali tatap mata.
Sehingga dapat kurangkai dalam kata-kata.
Bagai kenangan dan bunga-bunga kecil.
Kini diriku sadar, pandanganku menyempit pada sosokmu yang membesar dalam rasa.
Aku pasrah saat lututku mencium lantai.
Demi kau yang menari dalam pikiranku.
Sekejap saja, hanya satu tatapan.
Aku jatuh cinta....
Minggu, 15 Maret 2015
Kepada Jarak
Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit
rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan
beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan
napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan
langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul
berapa akan terus begini.
Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri.
Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu
bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai.
Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.
Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau baik-baik saja disana
dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai
mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya
kita dapat menuntaskan kerinduan ini, Aku juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan
matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang
menunggumu selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum
manja.
Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja
kalau kita sudah saling bertemu. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama.
Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau
dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab
aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.
Sabtu, 28 Februari 2015
Keyakinanku
Aku yakin, aku percaya.
Maka biarlah sang waktu terus bergulir membawa kita pada waktunya.
Bila memang cerita ini milik kita, kelak ia akan bergulir
dengan indahnya. Tidak perlu diburu-buru. Toh dengan hanya
menceritakanmu padaNya, aku sudah sangat senang dan tenang.
Jadi Bintang, tetaplah kamu diangkasa untuk saat ini.
Biar malam yang pertemukan kita.
Biar malam yang pertemukan kita.
Mungkin sapaku tidak selalu, bahkan tidak pernah menyentuhmu.
Percayalah, namamu tidak pernah absen dalam sujud-sujudku.
Ah iya, aku mencintaimu dengan sangat, dengan keyakinan yang memuncak. Jadi biar skenarioNya yang membimbing kita dengan penuh cinta menuju cinta yang kita harapkan. Semoga. Semoga semesta turut serta mengaamiinkan harapanku. Sebab hanya dalam kata dan sujudku aku berharap, barangkali kamu memiliki harap yang sama denganku.
Percayalah, namamu tidak pernah absen dalam sujud-sujudku.
Ah iya, aku mencintaimu dengan sangat, dengan keyakinan yang memuncak. Jadi biar skenarioNya yang membimbing kita dengan penuh cinta menuju cinta yang kita harapkan. Semoga. Semoga semesta turut serta mengaamiinkan harapanku. Sebab hanya dalam kata dan sujudku aku berharap, barangkali kamu memiliki harap yang sama denganku.
Terimakasih Wahai Sang Maha Cinta.
Selepas hujan dan badai yang begitu hebatnya di hati ini. Kini telah Engkau ciptakan cinta yang begitu mendamaikan, tanpa banyak tanya, tanya banyak kenapa didalamnya, aku tahu benar aku telah larut didalamnya.
Selepas hujan dan badai yang begitu hebatnya di hati ini. Kini telah Engkau ciptakan cinta yang begitu mendamaikan, tanpa banyak tanya, tanya banyak kenapa didalamnya, aku tahu benar aku telah larut didalamnya.
Titip rinduku untuknya. Titip salamku untuknya. Sampaikanlah cinta ini padaya. Semoga ia bisa merasakannya juga.
Rabu, 18 Februari 2015
Makanan kesekian
Ibu menyendokkan nasi putih hangat ke dalam tiga piring di depannya.
Mau lauk apa? Ayam goreng tepung, capcay cumi atau telur dadar?” Ibu menawari kami.adikku si bungsu, menoleh ke arahku. Sepertinya ia minta pertimbangan. “Apapun yang ibu ambilkan, kami pasti habiskan,” Aku tersenyum. Tak pantas aku memilih-milih makanan yang ibu hidangkan pada kami. Apapun itu pasti baik untuk anak-anaknya. Ibu menyodorkan dua piring ke arah kami. “Air putihnya ibu siapkan sekalian ya..” Aku menatap ibu dari tempatku duduk. Sebenarnya, tak perlu ia melakukan ini semua. Toh aku sudah dewasa dan bisa menyiapkan makanku sendiri. Sejak keluarga kami di rundung cobaan, bahka bisa di bilang kini kami benar benar berada di titik NOL, Ibu sering bersikap aneh.
“Bu, harus ya kita pura-pura lagi?” Aku tak tahan untuk menyikapi keanehan ini. Piring berisi nasi kemarin yang dihangatkan di depanku tak akan pernah membuat perut kami kenyang meskipun otak kami berimajinasi tentang menu makanan paling lezat sekalipun. Ibu menatapku sayu. Samar, ia mengangguk. “Kita harus begini. Setidaknya sampai keadaan kembali normal lagi.”
Sabtu, 14 Februari 2015
Aku merindukanmu, Maaf
Sebelumnya aku minta maaf. Karena lagi lagi rinduku tak tahu diri. Ia
datang kembali, saat aku sudah berusaha membencinya setelah kau pergi.
Aku juga tidak mengerti mengapa rindu masih sering mendatangi. Setiap
kali aku bertanya-tanya, ia selalu tak ingin bicara. Adakah kau tahu
jawabannya? Jika iya, beri tahu aku sekarang juga. Jujur, aku lelah
merindukan sendirian. Seharusnya rindu itu dinikmati, namun untuk kali
ini ia benar mengganggu waktuku.
Kau apa kabar di sana? Ah pasti kau sudah bahagia bukan? Siapakah yang beruntung menjadi penggantiku di hatimu? Ah bodohnya aku, apa urusanku untuk mengetahui hal itu. Jika aku tahu, justru membuat luka hatiku tak kunjung sembuh.
Bilangkan maafku untuknya, jika aku telah merindukan kekasihnya.
Tak usah kau tertawakan aku. Aku di sini baik-baik saja. Aku juga bisa bahagia meski tanpa kau. Hanya saja hal terberat setelah kau tak ada, adalah rindu yang tak bisa mati. Ah kau ini! Kau beri makan apa rindu? Sampai ia tak pernah bisa mati ketika aku tak lagi memberinya hangat pelukan.
Aku harus bagaimana? Aku tak bisa merawatnya sendirian, sedangkan untuk diberikan kepada seorang yang bukan kau, rindu ini tak mau.
Jika kau sudi membaca suratku ini, kabari aku secepatnya. Aku ingin mengembalikan rindumu. Agar kau saja yang merawatnya. Tak usah kau khawatirkan kekasihmu, aku akan merahasiakan soal ini.
Dari aku, seseorang yang merawat rindumu
Kau apa kabar di sana? Ah pasti kau sudah bahagia bukan? Siapakah yang beruntung menjadi penggantiku di hatimu? Ah bodohnya aku, apa urusanku untuk mengetahui hal itu. Jika aku tahu, justru membuat luka hatiku tak kunjung sembuh.
Bilangkan maafku untuknya, jika aku telah merindukan kekasihnya.
Tak usah kau tertawakan aku. Aku di sini baik-baik saja. Aku juga bisa bahagia meski tanpa kau. Hanya saja hal terberat setelah kau tak ada, adalah rindu yang tak bisa mati. Ah kau ini! Kau beri makan apa rindu? Sampai ia tak pernah bisa mati ketika aku tak lagi memberinya hangat pelukan.
Aku harus bagaimana? Aku tak bisa merawatnya sendirian, sedangkan untuk diberikan kepada seorang yang bukan kau, rindu ini tak mau.
Jika kau sudi membaca suratku ini, kabari aku secepatnya. Aku ingin mengembalikan rindumu. Agar kau saja yang merawatnya. Tak usah kau khawatirkan kekasihmu, aku akan merahasiakan soal ini.
Dari aku, seseorang yang merawat rindumu
Jumat, 13 Februari 2015
I (was, am, will) stand by you, Mamah
Bogor, 10 Februari 2015
Mamah sayang,
Hari hari ini aku menghabiskan waktu untuk berpikir tentang keadaanmu. Bertanya tanya tentang bagaimana sebenarnya perasaan hatimu. Apakah masih terluka, ataukah benar sedang bahagia, atau berusaha bahagia walau sedang merasakan luka.
Mah, usiaku sekarang sudah menuju 23 tahun. Waktu cukup lama untuk hidup dan melewati waktu bersama seseorang, belajar berbagi juga mencintai. Apa kau masih ingat kapan aku lahir dan mencoba berjalan serta bicara? Ah, kemudian aku juga belajar berlari, sampai sampai aku sudah mengambil langkah terlalu jauh darimu.
Mah, tahukah kau kalau hatiku sudah terluka sejak lama? Aku pernah hampir putus asa melihat orang yang aku cintai menderita tanpa bisa melakukan apa apa. Hanya bisa menyaksikan pukulan dan hinaan bergantian datang. Waktu demi waktu mereka tidak hanya menghampirimu, tapi juga mulai menyentuh kehidupanku. Aku menjadi penonton pasif sekaligus pemain cadangan yang hanya mampu mengingat adegan demi adegan yang terjadi. Aku mengingatnya, terlalu mengingat sampai ingatan itu menjadi hantu yang membuatku ketakutan. Aku trauma, Mah, Pukulan itu menyakitkan, hinaan itu membuat hatiku terbakar.
Mah, maafkan aku kalau kemarin pagi isi hatiku berhamburan semua. Menyerukan luka – luka kesakitan karena tersiram air garam. Aku geram. Apakah kita belum cukup terluka untuk membuat orang lain bahagia ? Maafkan aku karena marahku membuatmu kecewa. Kau mungkin tidak berkata apapun, tapi raut raut kesedihan terpancar jelas di wajah sayumu. Kau kelelahan, Seolah ingin menutup mata dan berharap semua hanya mimpi saja. Meringis melihat perbuatanku, apakah menahan tangis?
Mah, apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu saat ini ? tidakkah kau berpikir untuk mencari jalan yang lebih baik untuk sekedar merasa bahagia ? tidakkah kau ingin hidup tanpa lebam lebam di sekujur hatimu ? atau memang kau yang terlalu keras kepala, membiarkan hatimu bersedih demi melihat senyum terukir di wajah orang orang yang mencoba menyakitimu.
Mah, sejauh mana lagi aku harus melihatmu berjalan melewati jalan yang berbatu tajam. Masih kuatkah kaki kaki tuamu melangkah menghadapi lika – liku kehidupan yang entah akan menyajikan apa sebagai cobaan atau hadiah.
Mah, aku memang hanya selalu menjadi pemain cadangan, tapi aku memperhatikanmu, setiap gerakanmu yang membuatku tersenyum sekaligus tertegun. Ingatlah keberadanku jika kau sudah terlalu lelah dan menyerah dengan panggung kehidupanmu ini.
I’ll stand by you, Amma. I’ll lend you my hands whenever you need it.
Mamah sayang,
Hari hari ini aku menghabiskan waktu untuk berpikir tentang keadaanmu. Bertanya tanya tentang bagaimana sebenarnya perasaan hatimu. Apakah masih terluka, ataukah benar sedang bahagia, atau berusaha bahagia walau sedang merasakan luka.
Mah, usiaku sekarang sudah menuju 23 tahun. Waktu cukup lama untuk hidup dan melewati waktu bersama seseorang, belajar berbagi juga mencintai. Apa kau masih ingat kapan aku lahir dan mencoba berjalan serta bicara? Ah, kemudian aku juga belajar berlari, sampai sampai aku sudah mengambil langkah terlalu jauh darimu.
Mah, tahukah kau kalau hatiku sudah terluka sejak lama? Aku pernah hampir putus asa melihat orang yang aku cintai menderita tanpa bisa melakukan apa apa. Hanya bisa menyaksikan pukulan dan hinaan bergantian datang. Waktu demi waktu mereka tidak hanya menghampirimu, tapi juga mulai menyentuh kehidupanku. Aku menjadi penonton pasif sekaligus pemain cadangan yang hanya mampu mengingat adegan demi adegan yang terjadi. Aku mengingatnya, terlalu mengingat sampai ingatan itu menjadi hantu yang membuatku ketakutan. Aku trauma, Mah, Pukulan itu menyakitkan, hinaan itu membuat hatiku terbakar.
Mah, maafkan aku kalau kemarin pagi isi hatiku berhamburan semua. Menyerukan luka – luka kesakitan karena tersiram air garam. Aku geram. Apakah kita belum cukup terluka untuk membuat orang lain bahagia ? Maafkan aku karena marahku membuatmu kecewa. Kau mungkin tidak berkata apapun, tapi raut raut kesedihan terpancar jelas di wajah sayumu. Kau kelelahan, Seolah ingin menutup mata dan berharap semua hanya mimpi saja. Meringis melihat perbuatanku, apakah menahan tangis?
Mah, apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu saat ini ? tidakkah kau berpikir untuk mencari jalan yang lebih baik untuk sekedar merasa bahagia ? tidakkah kau ingin hidup tanpa lebam lebam di sekujur hatimu ? atau memang kau yang terlalu keras kepala, membiarkan hatimu bersedih demi melihat senyum terukir di wajah orang orang yang mencoba menyakitimu.
Mah, sejauh mana lagi aku harus melihatmu berjalan melewati jalan yang berbatu tajam. Masih kuatkah kaki kaki tuamu melangkah menghadapi lika – liku kehidupan yang entah akan menyajikan apa sebagai cobaan atau hadiah.
Mah, aku memang hanya selalu menjadi pemain cadangan, tapi aku memperhatikanmu, setiap gerakanmu yang membuatku tersenyum sekaligus tertegun. Ingatlah keberadanku jika kau sudah terlalu lelah dan menyerah dengan panggung kehidupanmu ini.
I’ll stand by you, Amma. I’ll lend you my hands whenever you need it.
Kamis, 12 Februari 2015
Mirror
Teruntuk lelaki yang sedang menatap dirinya dalam-dalam di cermin.
Apa yang mengganggumu?
Sepertinya mata indahmu basah.
Hidungmu memerah.
Dan wajahmu terlihat muram.
Hei, harimu terlalu berharga untuk kau habiskan dengan membasuh airmata.
Aku tau kamu lelah.
Tenang aku selalu mengiringimu.
Kemanapun. Aku akan selalu ada.
Tanpa lepas 1 cm-pun dari penglihatanmu.
Aku siap pinjamkan tanganku untuk menggenggam erat bahumu.
Aku siap pinjamkan bahuku untuk tempat pulang ternyaman.
Aku akan menguatkan setiap langkah kakimu untuk tetap berjalan.
Kadang sepi menyelinap masuk.
Tapi tak mengapa, aku tetap bersamamu.
Bahkan aku sudah bersama denganmu 22 tahun.
Aku sangat mengenal kamu.
Setiap lekuk tubuhmu.
Sudahi tangismu.
Jika pundak ini tak mampu lagi menampung segala bebanmu. Akan ada pundak lain yang sudah siap untuk menampung segala duka dan bahagiamu.
Hampiri dia.
Dia sudah siapkan tangan terbaiknya untuk menggandengmu menuju impian.
Dan dia sudah siapkan dua sajadah untukbersama-sama bersujud kepada-Nya.
Yang menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang tidak kurang dari kelemahannya.
Diriku, bangkitlah.
Perjalanan masih panjang.
Salam,
Dirimu.
Sepertinya mata indahmu basah.
Hidungmu memerah.
Dan wajahmu terlihat muram.
Hei, harimu terlalu berharga untuk kau habiskan dengan membasuh airmata.
Aku tau kamu lelah.
Tenang aku selalu mengiringimu.
Kemanapun. Aku akan selalu ada.
Tanpa lepas 1 cm-pun dari penglihatanmu.
Aku siap pinjamkan tanganku untuk menggenggam erat bahumu.
Aku siap pinjamkan bahuku untuk tempat pulang ternyaman.
Aku akan menguatkan setiap langkah kakimu untuk tetap berjalan.
Kadang sepi menyelinap masuk.
Tapi tak mengapa, aku tetap bersamamu.
Bahkan aku sudah bersama denganmu 22 tahun.
Aku sangat mengenal kamu.
Setiap lekuk tubuhmu.
Sudahi tangismu.
Jika pundak ini tak mampu lagi menampung segala bebanmu. Akan ada pundak lain yang sudah siap untuk menampung segala duka dan bahagiamu.
Hampiri dia.
Dia sudah siapkan tangan terbaiknya untuk menggandengmu menuju impian.
Dan dia sudah siapkan dua sajadah untukbersama-sama bersujud kepada-Nya.
Yang menyadari bahwa kita hanyalah hamba yang tidak kurang dari kelemahannya.
Diriku, bangkitlah.
Perjalanan masih panjang.
Salam,
Dirimu.
Rabu, 11 Februari 2015
Hope
Apa aku salah karena terlalu mengharapkanmu
Walaupun aku tahu itu akan menyakitkanku
Apa aku salah karena masih mencintaimu
Walaupun aku tahu itu akan melukaiku
Disaat kau mulai berjalan pergi
Aku masih terdiam dalam gerakku
Disaat kau mulai melupakanku
Apa aku salah karena masih mencintaimu
Walaupun aku tahu itu akan melukaiku
Disaat kau mulai berjalan pergi
Aku masih terdiam dalam gerakku
Disaat kau mulai melupakanku
Aku masih mengingatmu dalam tidurku
Apakah cinta itu sebodoh ini?
tidak, karena cinta bukan untuk membodohi
Karena yang ku ketahui sekarang yaitu
Aku begitu mengharapkanmu
Entah kapan..
Entah ditempat antah berantah..
Entah pada dimensi ke berapa..
Aku bisa menemui sosok seperti dirimu..
Yang aku tau hanyalah rasa bahagia yang kini kurasakan..
Yang orang biasanya bilang ini cinta..
Namun aku tak pernah tau apakah kau juga merasakan hal yang sama..
Apakah kau juga bahagia bersamaku..
Atau aku hanyalah seseorang yang kau anggap angin lalu dalam hidupmu..
Entahlah..
Aku tak pernah tau..
Namun yang saat ini aku ingin lakukan adalah bisa bahagia bersamamu..
Bukan hanya aku yang bahagia karenamu..
Aku ingin bahagiamu disebabkan olehku...
Bisakah aku memanggilmu dengan sebutan "MINE"
Dan bisakah pulakah kau memanggil diriku dengan sebutan "YOURS"
Dan aku sempurna saatku bersamamu :)
Karena yang ku ketahui sekarang yaitu
Aku begitu mengharapkanmu
Entah kapan..
Entah ditempat antah berantah..
Entah pada dimensi ke berapa..
Aku bisa menemui sosok seperti dirimu..
Yang aku tau hanyalah rasa bahagia yang kini kurasakan..
Yang orang biasanya bilang ini cinta..
Namun aku tak pernah tau apakah kau juga merasakan hal yang sama..
Apakah kau juga bahagia bersamaku..
Atau aku hanyalah seseorang yang kau anggap angin lalu dalam hidupmu..
Entahlah..
Aku tak pernah tau..
Namun yang saat ini aku ingin lakukan adalah bisa bahagia bersamamu..
Bukan hanya aku yang bahagia karenamu..
Aku ingin bahagiamu disebabkan olehku...
Bisakah aku memanggilmu dengan sebutan "MINE"
Dan bisakah pulakah kau memanggil diriku dengan sebutan "YOURS"
Dan aku sempurna saatku bersamamu :)
Jumat, 06 Februari 2015
Poem
Ada pertanyaan yang membelenggu bagi sebagian orang, tentang menjaga sesuatu yang dimilikinya.
Bagaimana caranya agar sesuatu itu tak pernah hilang?
Bahkan ada orang-orang yang meski telah mempertahankan sesuatu, tapi semua itu hilang begitu saja.
Mempertahankan itu mamang sulit, kita tak bisa memaksa seseorang untuk tetap bertahan, bukan?
Tapi, dengan mempertahakan kita akan belajar untuk menjaga suatu yang kita miliki. Tidak ada yang tau, bagaimana kehilangan akan datang.
Terkadang beberapa orang juga merasa bingung, apa yang perlu mereka pertahankan. Seharusnya seseorang itu tidak mempertahakan sesuatu yang pada kenyataanya membuat mereka lebih sering merasa bersedih daripada bahagia.
Mempertahankan seseorang yang tidak memberikan kebaikan untukmu, apa gunanya?
Apapun yang membuatmu bahagia, pertahankan, dan apapun yang membuatmu bersedih, lepaskan.
Akan ada waktu yang lama untuk perasaan bisa bertahan dan menunggu. Tapi, saat perasaan itu disakiti, mungkin hanya butuh waktu sebentar untuk membuatnya pergi. Miliki hati? Buatlah berarti
Bagaimana caranya agar sesuatu itu tak pernah hilang?
Bahkan ada orang-orang yang meski telah mempertahankan sesuatu, tapi semua itu hilang begitu saja.
Mempertahankan itu mamang sulit, kita tak bisa memaksa seseorang untuk tetap bertahan, bukan?
Tapi, dengan mempertahakan kita akan belajar untuk menjaga suatu yang kita miliki. Tidak ada yang tau, bagaimana kehilangan akan datang.
Terkadang beberapa orang juga merasa bingung, apa yang perlu mereka pertahankan. Seharusnya seseorang itu tidak mempertahakan sesuatu yang pada kenyataanya membuat mereka lebih sering merasa bersedih daripada bahagia.
Mempertahankan seseorang yang tidak memberikan kebaikan untukmu, apa gunanya?
Apapun yang membuatmu bahagia, pertahankan, dan apapun yang membuatmu bersedih, lepaskan.
Akan ada waktu yang lama untuk perasaan bisa bertahan dan menunggu. Tapi, saat perasaan itu disakiti, mungkin hanya butuh waktu sebentar untuk membuatnya pergi. Miliki hati? Buatlah berarti
Rabu, 04 Februari 2015
Boys Don’t Cry (?)
‘Ada MENANG di dalam MENANGis. Jadi, menangislah..”
Ada masalah apa dengan pria yang menangis? Seharusnya tak ada. Tuhan menciptakan air mata tentu bukan hanya untuk kaum hawa saja, kan? Dan kalaupun pria kebagian air mata, tentunya bukan hanya berfungsi sebagai media membersihkan mata dari kotoran yang masuk atau menempel. Fungsinya sama dengan air mata kepunyaan perempuan, bisa langsung connect ke perasaan. Mellow? Lihat dulu kasusnya..
Pria tentu punya alasan kuat untuk mengeluarkan airmata. Ya, sebagai pria, kami tidak perlu mengeluarkan airmata untuk hal-hal cemen yang sebenarnya memang bukan untuk ditangisi. Nonton telenovela, misalnya. Contoh yang aneh sebenarnya. Tapi memang para pria hanya mengeluarkan airmata untuk hal-hal ‘spesial’ saja. Ukuran spesial tiap pria mungkin beda, ya.
Lalu, kenapa ada anggapan kalau pria menangis itu gak macho, atau berhubungan dengan hal-hal lemah lainnya? Mungkin stereotype yang berkembang di masyarakat , pria adalah pelindung dan kuat di bandingkan dengan wanita. Bagaimana bisa sebagai pelindung, dia malah ikut-ikutan mewek? kalau hal ini sampai terjadi, saya yakin pasti malah akan membuat perempuan di sampingnya berhenti menangis karena merasa aneh (atau kocak?)
Pernahkah saya menangis? Tentu pernah. Terlepas dari menangis saat bayi, saya pernah menangis saat bertengkar dan menyakiti hati ibu saya. Saat itu, saya menangis sambil mengendarai motor saya keluar rumah setelah bertengkar. Saya menangis karena sungguh menyesal. Sebagai pria yang susah menangis ( Ya, saya memang susah mengeluarkan air mata–entah ada apa pada sistem lakrimasi pada mata saya. ), mengucurkan air mata dengan derasnya ketika saya menyesali perbuatan terhadap ibu itu sungguh melegakan. Ada perasaan plong yang membuat saya memaafkan kekhilafan saya sebelum akhirnya meminta maaf kepada ibu saya.
Dari kejadian itu, saya bisa berfikir bahwa menangis ternyata melegakan (setidaknya ‘penemuan’ ini bisa dijadikan modal untuk tahu alasan perempuan kenapa sering menangis :P) Ya, karena menangis adalah masalah emosi dan emosi tentu bersinggungan dengan perasaan. Semua orang–pria atau wanita punya itu. Dan yang bisa disimpulkan adalah, semua boleh menangis. Masalah hal-hal apa yang pantas atau tidaknya ditangisi oleh pria, biarlah kami–kaum adam yang tahu. Hehe.. :P
Quote
Cukup sekali saja aku jatuh cinta padamu. Selanjutnya biarkan aku melaksanakan pekerjaanku; mencintaimu
Masih, masih dan masih
Ra, ada banyak tanya yang kusimpan saat ini. Tak sempat aku
tanyakan, karena kau di mana aku tak mengerti. Jika kau sempat membaca
tulisanku ini Ra, semoga kau sudi menghubungiku lagi.
Ra, aku tak mengerti alasanmu mengapa lebih ingin menyudahi. Bukankah kita benar saling mencintai? Dan katamu, selalu aku yang kau butuhkan untuk menemanimu melewati hari-hari. Hari ini sudah hari ke berapa kita berpisah Ra? Dan hari ini juga, namamu masih menjadi candu rinduku. Namamu masih menjadi bagian terindah dalam doaku. Dan mencintaimu, aku belum menemukan cara untuk berhenti. Dan aku menjalin hubungan ini bukan tanpa tujuan, aku ingin membawamu ke tahap yang lebih serius, Aku mencintaimu, Cintaku padamu adalah cinta yang singkat dimana aku ingin meikahimu.
Ra sudahkah kau menemukan penggantiku? Jika ada, semoga ia benar mencintaimu. Tapi aku masih percaya diri, perihal mencintaimu juaranya masih aku. Dan aku juga tak sepenuhnya percaya, kau akan semudah itu kembali jatuh cinta. Aku tahu, kau sulit jatuh hati.
Sebenarnya aku begitu ingin kita kembali. Mengulang lagi segalanya yang pernah ada tentang kita. Cerita tentangmu, tentang kita; semua indah. Dan aku tak ingin sekali pun menggantinya dengan lain hati. Ra, meski berulang kali kita bertengkar, aku tak pernah berpikir jika kau buruk. Tak pernah! Kau masih kuanggap yang terindah. Tak ada yang bisa menggantikanmu, dan aku juga tidak ada niat sedikit pun menggantikanmu.
Ra, jika dengannya kau tak bahagia. Pulanglah, aku di sini; masih menunggu.
Segala tentangmu, tak ada yang berubah sedikit pun.
Percayalah, aku mencintaimu.
Pergimu, aku kehilangan aku.
Aku, Asa yang tengah mencoba hidup di hatimu, mengendap dalam diam dan jatuh kian dalam.
Ra, aku tak mengerti alasanmu mengapa lebih ingin menyudahi. Bukankah kita benar saling mencintai? Dan katamu, selalu aku yang kau butuhkan untuk menemanimu melewati hari-hari. Hari ini sudah hari ke berapa kita berpisah Ra? Dan hari ini juga, namamu masih menjadi candu rinduku. Namamu masih menjadi bagian terindah dalam doaku. Dan mencintaimu, aku belum menemukan cara untuk berhenti. Dan aku menjalin hubungan ini bukan tanpa tujuan, aku ingin membawamu ke tahap yang lebih serius, Aku mencintaimu, Cintaku padamu adalah cinta yang singkat dimana aku ingin meikahimu.
Ra sudahkah kau menemukan penggantiku? Jika ada, semoga ia benar mencintaimu. Tapi aku masih percaya diri, perihal mencintaimu juaranya masih aku. Dan aku juga tak sepenuhnya percaya, kau akan semudah itu kembali jatuh cinta. Aku tahu, kau sulit jatuh hati.
Sebenarnya aku begitu ingin kita kembali. Mengulang lagi segalanya yang pernah ada tentang kita. Cerita tentangmu, tentang kita; semua indah. Dan aku tak ingin sekali pun menggantinya dengan lain hati. Ra, meski berulang kali kita bertengkar, aku tak pernah berpikir jika kau buruk. Tak pernah! Kau masih kuanggap yang terindah. Tak ada yang bisa menggantikanmu, dan aku juga tidak ada niat sedikit pun menggantikanmu.
Ra, jika dengannya kau tak bahagia. Pulanglah, aku di sini; masih menunggu.
Segala tentangmu, tak ada yang berubah sedikit pun.
Percayalah, aku mencintaimu.
Pergimu, aku kehilangan aku.
Aku, Asa yang tengah mencoba hidup di hatimu, mengendap dalam diam dan jatuh kian dalam.
Heii..
Hai, apa kabarmu? Ah, mungkin kamu akan menganggapku pria dengan basa-basi tinggi. Entahlah, mungkin ada benarnya. Aku
terlalu berhati-hati bila ingin memulai obrolan denganmu. Terlalu
tertata, menjadikannya tampak deretan kalimat basa-basi, bukan?
Lama kita tak berjumpa. Mungkin sudah ratusan hari, mungkin juga ribuan. Entah. Aku sangat bodoh untuk mengingat berapa lama aku tak melihatmu. Bagiku, baru sekelebat punggungmu menjauh saja sudah kuhitung lama. Berlebihan? Tak ada yang cukup untuk seseorang yang sedang tersandung lalu terjatuh dalam kubangan cinta, bukan?
Apakah kau tahu, dulu saat kita sama-sama masih berhubungan; aku sering kali memanggilmu hanya sekadar ingin melihatmu menoleh? Gerakan saat wajahmu berpaling ke arahku –dengan beberapa gerai rambut nakal yang menutupi dahimu– itu terekam jelas dalam gerak lambat di memori otakku.
“Ya, ada apa?” Kau mencari jawaban atas panggilanku.
“Ah, ngga apa-apa. Cuma mau bilang, pulangnya hati-hati ya..” Itu yang terlontar dari mulutku. Norak. Ya, aku menganggapnya seperti itu bila sekarang mengingatnya. Tapi hal-hal seperti itu justru spesial. Dan, ah, aku merindukan momen seperti itu.
**
Hari ini, beberapa menit yang lalu aku tiba-tiba mengingatmu. Entah angin apa yang membuka kotak pandora di otakku. Semuanya berhamburan dan aku tak mampu mencegahnya. Kubiarkan mereka melayang-layang, sebagian kutangkap –lalu kuingat– , sebagian lagi kubiarkan menguap. Untuk yang terakhir ini mungkin yang berhubungan dengan perih. Ha-ha. Detik ini juga, kuputuskan menulis surat untukmu. Aku memang tak tahu di mana alamatmu sekarang. Pun keberadaanmu. Surat ini mungkin memang ditulis bukan untuk dikirimkan ke tempatmu, melainkan hanya untuk menyuarakan hatiku. Kalau tak kulakukan sekarang, kapan lagi? Bukankah kita tak berhak berpura-pura dengan perasaan sendiri?
Ira, aku harap di sana kamu baik-baik saja. Dengan siapa pun kamu sekarang, tak jadi soal. Ia –lelakimu– harus bisa menjadikanmu permaisuri paling bahagia. Kalau tidak, aku bisa sangat marah. Kamu layak dibahagiakan karena memang kamu lah sumber dari kebahagiaan itu sendiri.
Aku terlalu ngelantur sepertinya. Beginilah jika perasaan yang lama dipendam, dikunci rapat, akhirnya dipaksa bertemu kesempatan. Tak ada lagi sisa yang disembunyikan, semuanya gamblang diucapkan.
Baiklah, Ra. Surat ini harus disudahi sebelum semuanya menjadi berlarut-larut. Maaf jika kata-kataku tak berkenan. Kau tahu, kau tak perlu membaca semua tulisanku ini, cukup kata yang kucetak tebal saja. Terlanjur? Ah, itu lebih baik.
Salam,
Lama kita tak berjumpa. Mungkin sudah ratusan hari, mungkin juga ribuan. Entah. Aku sangat bodoh untuk mengingat berapa lama aku tak melihatmu. Bagiku, baru sekelebat punggungmu menjauh saja sudah kuhitung lama. Berlebihan? Tak ada yang cukup untuk seseorang yang sedang tersandung lalu terjatuh dalam kubangan cinta, bukan?
Apakah kau tahu, dulu saat kita sama-sama masih berhubungan; aku sering kali memanggilmu hanya sekadar ingin melihatmu menoleh? Gerakan saat wajahmu berpaling ke arahku –dengan beberapa gerai rambut nakal yang menutupi dahimu– itu terekam jelas dalam gerak lambat di memori otakku.
“Ya, ada apa?” Kau mencari jawaban atas panggilanku.
“Ah, ngga apa-apa. Cuma mau bilang, pulangnya hati-hati ya..” Itu yang terlontar dari mulutku. Norak. Ya, aku menganggapnya seperti itu bila sekarang mengingatnya. Tapi hal-hal seperti itu justru spesial. Dan, ah, aku merindukan momen seperti itu.
**
Hari ini, beberapa menit yang lalu aku tiba-tiba mengingatmu. Entah angin apa yang membuka kotak pandora di otakku. Semuanya berhamburan dan aku tak mampu mencegahnya. Kubiarkan mereka melayang-layang, sebagian kutangkap –lalu kuingat– , sebagian lagi kubiarkan menguap. Untuk yang terakhir ini mungkin yang berhubungan dengan perih. Ha-ha. Detik ini juga, kuputuskan menulis surat untukmu. Aku memang tak tahu di mana alamatmu sekarang. Pun keberadaanmu. Surat ini mungkin memang ditulis bukan untuk dikirimkan ke tempatmu, melainkan hanya untuk menyuarakan hatiku. Kalau tak kulakukan sekarang, kapan lagi? Bukankah kita tak berhak berpura-pura dengan perasaan sendiri?
Ira, aku harap di sana kamu baik-baik saja. Dengan siapa pun kamu sekarang, tak jadi soal. Ia –lelakimu– harus bisa menjadikanmu permaisuri paling bahagia. Kalau tidak, aku bisa sangat marah. Kamu layak dibahagiakan karena memang kamu lah sumber dari kebahagiaan itu sendiri.
Aku terlalu ngelantur sepertinya. Beginilah jika perasaan yang lama dipendam, dikunci rapat, akhirnya dipaksa bertemu kesempatan. Tak ada lagi sisa yang disembunyikan, semuanya gamblang diucapkan.
Baiklah, Ra. Surat ini harus disudahi sebelum semuanya menjadi berlarut-larut. Maaf jika kata-kataku tak berkenan. Kau tahu, kau tak perlu membaca semua tulisanku ini, cukup kata yang kucetak tebal saja. Terlanjur? Ah, itu lebih baik.
Salam,
Lamunan masa lalu
Byarrr sore ini aku tersenyum senyum sendiri tak kala aku
mengingat waktu dimana pada saat itu aku masih menjalin hubungan dengan seorang
wanita , ada beberapa hal yang membuat aku tersenyum senyum sendiri yah salah
satunya nama panggilan kami sebagai pasangan kekasih, yah maksudnya biar kaya
pasangan pasangan yang lain yang mempunyai nama panggilan sayang kepada
pasangannya,
Pada saat itu sisi detektif ku
muncul, maaf bukannya buat nanganin kasus pembunuhan atau pencurian tapi mencari
informasi nama panggilan apa saja yang di pakai untuk panggilan sayang kepada
pasangannya, dan ternyata tadaaa banyak sekali, dari nama panggilan, * Ayang,
sayang, beib, honey, mimih pipih, dan malah yg paling ekstrim kakek nenek* ntah
mereka kenapa memkai nama panggilan itu, ehh tunggu sebentar kan dari awal ini
cerita tentang nama panggilan sayang aku dulu pas masih menjalin hubungan, baiklah
mari sini aku ceritakan.
**
Tunggu mulai dari mana yah , jadi
bingung. Hahaha
Oiah jadi gini waktu itu aku bertemu
dengan seorang perempuan yang sempat menjadi kekasihku selama kurang lebih 1
tahun lebih, dan lucunya sehari setelah kita bertemu kita mulai saling akrab
karena pada saat itu kita menjadi seorang pendendam setiap pesan yang masuk
pasti langsung di balas, hahaha.
Awal mula setiap aku menghubungi
dia melalui pesan di ponselku jika dia telat membalasnya pasti selalu dengan
alasan *maaf baru bangun tidur atau maaf aku ketiduran* loh loh ntah bohong
atau memang benar jawaban itu selalu terucap, gak sering sih tapi itu serasa
menjadi alesan jitu jika telat membalas pesanku,
Kya :
kamu ituu yah tiap bls pasti bilangnya ketiduran?
Ra : emang aku kan ketiduran, gimana atuh,
Kya : Dasar mau jadi Putri Tidur kamu *begituu ejek ku
Ra : ihh kamu apaan sihh, gak gitu juga kalii
Kya : iyah iyah Putri Tidur :p *begitulah ejekan ku hingga nama itu melekat menjadi nama
panggilan ku untuknya*
Ra : Nah klo aku Putri Tidur berarti kamu apa, pangeran kodok dong, hehehehe *loh pangeran
kodok ? aiihh bukankah itu cerita seorang pangeran yang di kutuk menjadi kodok dan
berubah menjadi pangeran setlah di cium oleh seorang wanita? Pertanda apa ini, semua
pikiran mulai merasuki otak ku ini tentang pemberian nama Pangeran Kodok ini, ihihihi*
Kya : Ih apaan kodok, aku lebih pilih kecebong dari pada kodok *Lah apalah ini tiba-tiba keluar
dari percakapan kita, kecebong apa pula maksudnya.
Ra : haha iyah iyah Pangeran Kecebong *what the, seriusan ini jadi Pangeran Kecebong jadi
nama panggilan buat aku? Not bad lah itu pikiranku.
Ra : emang aku kan ketiduran, gimana atuh,
Kya : Dasar mau jadi Putri Tidur kamu *begituu ejek ku
Ra : ihh kamu apaan sihh, gak gitu juga kalii
Kya : iyah iyah Putri Tidur :p *begitulah ejekan ku hingga nama itu melekat menjadi nama
panggilan ku untuknya*
Ra : Nah klo aku Putri Tidur berarti kamu apa, pangeran kodok dong, hehehehe *loh pangeran
kodok ? aiihh bukankah itu cerita seorang pangeran yang di kutuk menjadi kodok dan
berubah menjadi pangeran setlah di cium oleh seorang wanita? Pertanda apa ini, semua
pikiran mulai merasuki otak ku ini tentang pemberian nama Pangeran Kodok ini, ihihihi*
Kya : Ih apaan kodok, aku lebih pilih kecebong dari pada kodok *Lah apalah ini tiba-tiba keluar
dari percakapan kita, kecebong apa pula maksudnya.
Ra : haha iyah iyah Pangeran Kecebong *what the, seriusan ini jadi Pangeran Kecebong jadi
nama panggilan buat aku? Not bad lah itu pikiranku.
Begitulah singkatnya percakapan
kita sampai kita menemukan nama panggilan kita masing-masing, dan asal tahu
nama itu di ambil sebelum kita menjalin sebuah hubungan loh, setelah kami mulai
menjalin hubungan pun kami masih menggunakan nama panggilan itu di dalam pesan
yang kami kirimkan.
Pangeran Kodok dan Putri Tidur sudah
lama kita tak lagi menggunakan nama panggilan itu, setelah kita lebih memilih
jalan kita masing-masing, dan ahh sudahlah bukan berarti ingin kembali ke masa lalu. Bukan berarti menyesali apa
yang tengah terjadi, hanya ingin punya esok yang lebih baik Tuhan. tapi aku sangat berterima kasih karena kau
telah di pertemukan aku dengannya , aku begitu sangat menikmati menjalani setiap detik dengannya.
Terima kasih Putri Tidur salam dari orang yang dulu sempat menjadi Pangeran
Kecebong mu
Langganan:
Postingan (Atom)

