Next

Rabu, 04 Februari 2015

Masih, masih dan masih

Ra, ada banyak tanya yang kusimpan saat ini. Tak sempat aku tanyakan, karena kau di mana aku tak mengerti. Jika kau sempat membaca tulisanku ini Ra, semoga kau sudi menghubungiku lagi.
Ra, aku tak mengerti alasanmu mengapa lebih ingin menyudahi. Bukankah kita benar saling mencintai? Dan katamu, selalu aku yang kau butuhkan untuk menemanimu melewati hari-hari. Hari ini sudah hari ke berapa kita berpisah Ra? Dan hari ini juga, namamu masih menjadi candu rinduku. Namamu masih menjadi bagian terindah dalam doaku. Dan mencintaimu, aku belum menemukan cara untuk berhenti. Dan aku menjalin hubungan ini bukan tanpa tujuan, aku ingin membawamu ke tahap yang lebih serius, Aku mencintaimu, Cintaku padamu adalah cinta yang singkat dimana aku ingin meikahimu.
Ra sudahkah kau menemukan penggantiku? Jika ada, semoga ia benar mencintaimu. Tapi aku masih percaya diri, perihal mencintaimu juaranya masih aku. Dan aku juga tak sepenuhnya percaya, kau akan semudah itu kembali jatuh cinta. Aku tahu, kau sulit jatuh hati.
Sebenarnya aku begitu ingin kita kembali. Mengulang lagi segalanya yang pernah ada tentang kita. Cerita tentangmu, tentang kita; semua indah. Dan aku tak ingin sekali pun menggantinya dengan lain hati. Ra, meski berulang kali kita bertengkar, aku tak pernah berpikir jika kau buruk. Tak pernah! Kau masih kuanggap yang terindah. Tak ada yang bisa menggantikanmu, dan aku juga tidak ada niat sedikit pun menggantikanmu.
Ra, jika dengannya kau tak bahagia. Pulanglah, aku di sini; masih menunggu.
Segala tentangmu, tak ada yang berubah sedikit pun.
Percayalah, aku mencintaimu.
Pergimu, aku kehilangan aku.
Aku, Asa yang tengah mencoba hidup di hatimu, mengendap dalam diam dan jatuh kian dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar