Ra, ada banyak tanya yang kusimpan saat ini. Tak sempat aku
tanyakan, karena kau di mana aku tak mengerti. Jika kau sempat membaca
tulisanku ini Ra, semoga kau sudi menghubungiku lagi.
Ra, aku tak mengerti alasanmu mengapa lebih ingin menyudahi. Bukankah
kita benar saling mencintai? Dan katamu, selalu aku yang kau butuhkan
untuk menemanimu melewati hari-hari. Hari ini sudah hari ke berapa kita
berpisah Ra? Dan hari ini juga, namamu masih menjadi candu rinduku.
Namamu masih menjadi bagian terindah dalam doaku. Dan mencintaimu, aku
belum menemukan cara untuk berhenti. Dan aku menjalin hubungan ini bukan tanpa tujuan, aku ingin membawamu ke tahap yang lebih serius, Aku mencintaimu, Cintaku padamu adalah cinta yang singkat dimana aku ingin meikahimu.
Ra sudahkah kau menemukan penggantiku? Jika ada, semoga ia benar
mencintaimu. Tapi aku masih percaya diri, perihal mencintaimu juaranya
masih aku. Dan aku juga tak sepenuhnya percaya, kau akan semudah itu
kembali jatuh cinta. Aku tahu, kau sulit jatuh hati.
Sebenarnya aku begitu ingin kita kembali. Mengulang lagi segalanya yang
pernah ada tentang kita. Cerita tentangmu, tentang kita; semua indah.
Dan aku tak ingin sekali pun menggantinya dengan lain hati. Ra, meski
berulang kali kita bertengkar, aku tak pernah berpikir jika kau buruk. Tak
pernah! Kau masih kuanggap yang terindah. Tak ada yang bisa
menggantikanmu, dan aku juga tidak ada niat sedikit pun menggantikanmu.
Ra, jika dengannya kau tak bahagia. Pulanglah, aku di sini; masih menunggu.
Segala tentangmu, tak ada yang berubah sedikit pun.
Percayalah, aku mencintaimu.
Pergimu, aku kehilangan aku.
Aku, Asa yang tengah mencoba hidup di hatimu, mengendap dalam diam dan jatuh kian dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar