Sebelumnya aku minta maaf. Karena lagi lagi rinduku tak tahu diri. Ia
datang kembali, saat aku sudah berusaha membencinya setelah kau pergi.
Aku juga tidak mengerti mengapa rindu masih sering mendatangi. Setiap
kali aku bertanya-tanya, ia selalu tak ingin bicara. Adakah kau tahu
jawabannya? Jika iya, beri tahu aku sekarang juga. Jujur, aku lelah
merindukan sendirian. Seharusnya rindu itu dinikmati, namun untuk kali
ini ia benar mengganggu waktuku.
Kau apa kabar di sana? Ah pasti kau sudah bahagia bukan? Siapakah yang
beruntung menjadi penggantiku di hatimu? Ah bodohnya aku, apa urusanku
untuk mengetahui hal itu. Jika aku tahu, justru membuat luka hatiku tak
kunjung sembuh.
Bilangkan maafku untuknya, jika aku telah merindukan kekasihnya.
Tak usah kau tertawakan aku. Aku di sini baik-baik saja. Aku juga bisa
bahagia meski tanpa kau. Hanya saja hal terberat setelah kau tak ada,
adalah rindu yang tak bisa mati. Ah kau ini! Kau beri makan apa rindu?
Sampai ia tak pernah bisa mati ketika aku tak lagi memberinya hangat
pelukan.
Aku harus bagaimana? Aku tak bisa merawatnya sendirian, sedangkan untuk
diberikan kepada seorang yang bukan kau, rindu ini tak mau.
Jika kau sudi membaca suratku ini, kabari aku secepatnya. Aku ingin
mengembalikan rindumu. Agar kau saja yang merawatnya. Tak usah kau
khawatirkan kekasihmu, aku akan merahasiakan soal ini.
Dari aku, seseorang yang merawat rindumu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar