Ketika pertanyaan itu kutujukan pada diriku sendiri, aku pasti terdiam lama. Lalu pikiranku kembali ke masa lalu. Mencari-cari yang mana aku dan seperti apa bentukku. Kembali ke masa dimana aku masih berlari riang tanpa busana, mengelilingi penjuru rumah lalu duduk di sembarang tempat. Sedang ibuku mulai kesal mencoba menangkapku. Aku yang begitu bersih. Kalian bisa melihat dari beningnya mataku. Mata anak balita mana yang tidak mencerminkan sucinya mereka.
Aku
belum tahu apa itu dosa. Bahkan ketika manusia lain memperlakukanku
dengan salah, aku tidak akan mengharapkan maaf dari mereka. Aku tidak
mengenal maaf. Tak banyak yang kuingat dari masa-masa itu. Masa ketika
aku bahkan tak bisa menyebut ‘biru’ dengan benar. Warna kesukaanku
sendiri.
Hingga
kemudian datang aku yang sekarang. Yang telah kerap terluka dan
melukai. Yang tak lagi dapat berlari kesana-kesini tanpa busana. Walau
kini aku telah mampu menyebut ‘biru’dengan benar, tak lantas aku mampu
hidup lebih baik dari anak yang dulu bermata bening itu. Anak yang duduk
dilantai sembarangan, yang dengan bangga menaiki troli yang didorong
ibunya di pasar swalayan, yang kerap diterbangkan bak pesawat oleh
ayahnya. Siapa aku yang sekarang, tentunya berawal dari anak berkulit
coklat dan bermata bening besar itu. 22 tahun lalu dia tidak dengan
begitu saja lahir di dunia. Dia lagi-lagi ada atas nama cinta ayah dan
ibunya.
Siapa
kamu? Kemudian renungan panjang kujalani. Bahwa begitu banyak yang
telah terjadi pada diri dan hidupku. Yang dulu hanya sebuah rengekkan
kecil sekarang menjadi tangisan semalam suntuk. Yang dulu hanya tau
sayang pada ibu dan ayahnya kini mulai mengenal sayang pada sahabat, dan
bahkan sayang pada perempuan yang baru saja bertemu dengannya di persimpangan jalan.
Aneh. Tapi hidup memang sedemikian aneh untuk dikatakan normal.
Isi
mimpi pun sekarang mulai berbeda. Aku tentu saja tak peduli pada bunga
tidurku dulu, aku akan tidur dengan kantuk yang nyata dan terjaga di
tengah basah kasurku yang terkena ompol. Kini, tertidur pun aku menunggu
kantuk, terjaga pun dapat dengan mudah diambil kegalauan. Hidup menjadi
tak lagi dengan begitu mudah dapat kulewati. Entah kemana aku yang dulu
pergi, entah kemana ‘kemudahan’ yang dulu terpatri di dalam hari. Kini,
aku dewasa lebih sulit mencari alasan untuk tertawa. Lebih pandai
membuat senyum palsu. Tapi tetap tidak sabaran pada segala sesuatu yang
menyulitkan. Aku yang sekarang, lebih mudah menyerah pada ketidak
mampuan. Mana teriakan “Aku mau! Aku mau!” yang dulu selalu muncul
disetiap kesempatan yang ditawarkan. Manusia dewasa, entah mengapa
begitu pengecut.
Ya,
walau tidak semua. Bagi mereka yang hidup-nya selalu baik-baik saja.
Tapi mana ada manusia yang selalu merasa baik-baik saja. Bahkan ketika
mereka memiliki segalanya. Aku bahkan mengakui menjadi manusia yang
terkadang malas sekali untuk bersyukur. Kita menganggapnya manusiawi,
kita memaklumi hal yang nyatanya salah dan menjadikannya bukan lagi
sesuatu yang salah. Ya itulah aku yang sekarang. Penuh kekurangan, penuh
penyangkalan.
Siapa
kamu? Saya Merah, sering menyebut dirinya Senja. Pria berusia 22
tahun yang belum pernah mencium siapa pun. Kecuali bayi dan pipi ayah
ibu nya. Tapi itu bukan berarti hidupnya sesederhana itu. Seandainya
saja sesederhana itu. Tapi nyatanya tidak. Tidak melakukan banyak hal
yang dilakukan kebanyakan orang tidak serta merta membuat hidupmu jauh
lebih mudah dari mereka. Dan demikianlah nyatanya. Aku bisa jamin pada
kalian, bahwa aku hanyalah Pria biasa. Yang bahkan tidak suka
banyak hal yang orang lain sukai. Contohnya saja, aku tidak suka
menghabiskan banyak waktu diluar rumah, tidak begitu tertarik dengan
hubungan percintaan dan tidak pernah sekali pun meminum bir. Nyaris
tidak normal. Tapi entah mengapa hidupku tidak bisa semudah kegiatanku
sehari-hari.
Aku
tetap banyak menangis dan meratap. Tetap banyak kecewa dan kembali
berharap. Banyak mengingkari dan kembali berjanji. Aku tetap seperti
kalian. Mencoba bangkit dari banyak kegagalan, mencoba percaya setelah
dengan nyata ditinggalkan. Aku tetap melewati banyak hal yang
menyakitkan dan butuh pertolongan. Aku adalah seperti ini. Seperti
dirimu.
Lalu
siapakah aku, aku bahkan sedang terus mencari jawabannya. Entah
dilembar sebelah mana buku hidupku ini. Atau mungkin sebenarnya kita
tahu pasti diri kita hanya tak ingin mengungkap yang sebenarnya. Karena
begitu takut dengan kebenaran. Aku kadang berpikir, bagaimana jika
selama 22 tahun ini, aku bahkan belum pernah menjadi diriku sendiri.
Hingga aku lupa bentuk asliku yang sebenarnya. Oleh karenanya menjawab
pertanyaan sependek “siapa kamu?” saja aku butuh berlembar-lembar kertas
semacam ini. Dan membiarkan kamu semakin panjang membaca. Bagaimana
jika demikian yang terjadi. Mungkinkah seburuk itu?
Yang
aku tahu, aku adalah seseorang yang begitu mudah menangis ketika
melihat atau mendengar sesuatu yang menyedihkan. Yang aku tahu, aku
begitu benci teriakkan dan kekerasan. Yang aku tahu, aku tidak suka pembodohan juga kebohongan yang disengaja. Aku tidak suka uang banyak. Aku
tidak suka penghianatan, perselingkuhan dan kawan-kawannya. Dan
lagi-lagi, ada beberapa bagian dalam diriku yang mirip kamu. Karena
nyatanya kita sama manusia.
Aku
yang sekarang adalah seorang pria Yang ingin menikah dengan
seorang perempuan baik hati dan menjadi ayah yang sehat untuk anaknya kelak.
Yang ingin menemukan cinta sejatinya dengan jalan yang biasa saja. Yang
tidak pernah berharap menjalani kisah yang cinderella alami. Tapi tetap
ingin menikah dengan gaun yang cantik serta memiliki perempuan yang cantik
dalam versinya.
Aku
yang sekarang adalah sesuatu yang rapuh walau tak juga patah. Yang
sedang mencoba sebisa mungkin berdamai dengan masa lalu-nya yang tidak
semua bagiannya baik. Yang ingin dikasihi secara tulus dan mengasihi
kembali dengan utuh. Yang tak pernah ingin berbohong jika saja bisa.
Yang seringkali membicarakan orang lain di balik pundaknya. Yang suka
musik dan merasa suara lebih merdu ketika menyanyi di dalam kamar mandi.
Aku yang sekarang adalah aku yang mungkin saja mirip dirimu yang
sekarang.
Siapa kamu?
Mungkin saja aku adalah sedikit bagian dari dirimu.
Mungkin saja, kamu adalah sedikit bagian dari diriku.
Mungkin saja kita identik satu dengan yang lain.
Aku ingin bisa menjawab dengan lantang pertanyaan ini, tapi tetap tidak semudah kelihatannya.
Siapa kamu? Aku adalah anak laki-laki pertama dari ayahku. Memiliki dua adik laki-laki dan dua adik perempuan serta seorang ibu yang baik hati. Aku adalah siapa yang mereka panggil anak, kakak, sahabat dan pacar mungkin.
Siapa kamu? Aku adalah anak laki-laki pertama dari ayahku. Memiliki dua adik laki-laki dan dua adik perempuan serta seorang ibu yang baik hati. Aku adalah siapa yang mereka panggil anak, kakak, sahabat dan pacar mungkin.
Aku
adalah seorang ppria yang mencintai lakerempuan yang mau mencintainya
kelak. Aku adalah seseorang yang mencoba menulis dengan baik setiap
waktu. Aku tidak pandai apa-apa selain menulis. Buruk dalam matematika
dan benci logaritma. Suka bernyanyi tanpa tahu nada, dan masih tetap
suka mencela orang lain yang berpakaian tidak sesuai seleraku sendiri.
Padahal itu sama sekali bukan urusanku.
Aku
selalu menganggap beberapa orang cukup bodoh untuk jatuh cinta, tapi
diriku sendiri berkali jatuh di lubang yang sama. Aku terlanjur menutup
hatiku dengan rapat dan sulit memberi masuk cinta yang kebetulan lewat.
Dan tentu saja, aku rajanya melewatkan banyak kesempatan emas di depan
mata hanya karena merasa tak cukup pantas mendapatkannya.
Siapa kamu?
Aku memahami diriku, aku pura-pura memahami diriku setiap waktu. Dan terimakasih Tuhan karena Kau biarkan aku menanyakan pertanyaan ini pada diriku sendiri. Lalu kemudian kesulitan menjawabnya.
Aku tahu Kau sedang tersenyum membaca jawabanku. Bagaimana sepanjang 22 tahun ini aku masih saja tidak percaya pada diriku sendiri untuk menjawabnya dengan pasti.
Lalu, siapakah kamu?
Aku memahami diriku, aku pura-pura memahami diriku setiap waktu. Dan terimakasih Tuhan karena Kau biarkan aku menanyakan pertanyaan ini pada diriku sendiri. Lalu kemudian kesulitan menjawabnya.
Aku tahu Kau sedang tersenyum membaca jawabanku. Bagaimana sepanjang 22 tahun ini aku masih saja tidak percaya pada diriku sendiri untuk menjawabnya dengan pasti.
Lalu, siapakah kamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar