Next

Jumat, 13 Februari 2015

I (was, am, will) stand by you, Mamah



Bogor, 10 Februari 2015

Mamah sayang,
Hari hari ini aku menghabiskan waktu untuk berpikir tentang keadaanmu. Bertanya tanya tentang bagaimana sebenarnya perasaan hatimu. Apakah masih terluka, ataukah benar sedang bahagia, atau berusaha bahagia walau sedang merasakan luka.

Mah, usiaku sekarang sudah menuju 23 tahun. Waktu cukup lama untuk hidup dan melewati waktu bersama seseorang, belajar berbagi juga mencintai. Apa kau masih ingat kapan aku lahir dan mencoba berjalan serta bicara? Ah, kemudian aku juga belajar berlari, sampai sampai aku sudah mengambil langkah terlalu jauh darimu.

Mah, tahukah kau kalau hatiku sudah terluka sejak lama? Aku pernah hampir putus asa melihat orang yang aku cintai menderita tanpa bisa melakukan apa apa. Hanya bisa menyaksikan pukulan dan hinaan bergantian datang. Waktu demi waktu mereka tidak hanya menghampirimu, tapi juga mulai menyentuh kehidupanku. Aku menjadi penonton pasif sekaligus pemain cadangan yang hanya mampu mengingat adegan demi adegan yang terjadi. Aku mengingatnya, terlalu mengingat sampai ingatan itu menjadi hantu yang membuatku ketakutan. Aku trauma, Mah, Pukulan itu menyakitkan, hinaan itu membuat hatiku terbakar.

Mah, maafkan aku kalau kemarin pagi isi hatiku berhamburan semua. Menyerukan luka – luka kesakitan karena tersiram air garam. Aku geram. Apakah kita belum cukup terluka untuk membuat orang lain bahagia ? Maafkan aku karena marahku membuatmu kecewa. Kau mungkin tidak berkata apapun, tapi raut raut kesedihan terpancar jelas di wajah sayumu. Kau kelelahan, Seolah ingin menutup mata dan berharap semua hanya mimpi saja. Meringis melihat perbuatanku, apakah menahan tangis?

Mah, apa sebenarnya yang ada di dalam kepalamu saat ini ? tidakkah kau berpikir untuk mencari jalan yang lebih baik untuk sekedar merasa bahagia ? tidakkah kau ingin hidup tanpa lebam lebam di sekujur hatimu ? atau memang kau yang terlalu keras kepala, membiarkan hatimu bersedih demi melihat senyum terukir di wajah orang orang yang mencoba menyakitimu.

Mah, sejauh mana lagi aku harus melihatmu berjalan melewati jalan yang berbatu tajam. Masih kuatkah kaki kaki tuamu melangkah menghadapi lika – liku kehidupan yang entah akan menyajikan apa sebagai cobaan atau hadiah.

Mah, aku memang hanya selalu menjadi pemain cadangan, tapi aku memperhatikanmu, setiap gerakanmu yang membuatku tersenyum sekaligus tertegun. Ingatlah keberadanku jika kau sudah terlalu lelah dan menyerah dengan panggung kehidupanmu ini.
I’ll stand by you, Amma. I’ll lend you my hands whenever you need it.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar