Next

Sabtu, 18 April 2015

Senandung malam.

Saat itu, aku ingin sekali bisa membaca isi otakmu, dan mencari, apa ada aku di dalamnya ?
Dan inginku lagi, saat kedua jarum jam sama-sama berada di angka duabelas, aku harap semoga Tuhan menghentikan waktu untukku.
Untuk pertama kalinya, aku tak ingin pagi segera datang, biar, biarkanlah waktu diambil alih oleh malam, sebab aku menikmatinya.
Kau tahu, ternyata waktu ialah hal yang sangat batu, ia tak pernah bisa diajak berkompromi; walau aku mengiba, ia acuh, dan tetap berjalan.
Pada detik kesekian di malam itu, kecupanmu yang berkali mendarat di wajahku, ialah hal yang kupastikan terekam dalam ingatanku, selalu.
Dan aku merasakan panas; aku rasa ada yang telah terbakar, sesaat setelah kecupanmu bertubi-tubi mendarat di tiap jengkal tubuhku.
Malam dan waktu, ialah pasangan paling sempurna, yang menenggelamkan kita dalam suasana.
Kukira jantungku punya kelainan, aku tak bisa mengendalikan degupnya, seketika ia melamban, kemudian teratur, lalu terdengar begitu cepat.
Dan aku mulai curiga, jangan-jangan kamu mengambil alih kendali jantungku?
Jikapun iya, maka bisa kupastikan, degupnya akan berhenti jika kau meninggalkan ruang kendalimu.
Karenanya, kumohon singgahlah, tidak sebentar, dan tidak untuk sementara. Akan kubuatkan rumah untukmu bernaung, di dalam dada kiriku.
Ah, malam memang paling bisa menjadi racun di pikiranku, lihat saja aku, daritadi tak bisa mengendalikan penaku untuk terus menuliskanmu.
Padahal aku hanya minta, agar menit ini, di malam kemarin, untuk diulang kembali, dimana aku begitu menikmati, tenggelam dalam matamu.
Jika memang yang di dalam pikiran dan hatimu itu aku, kau pasti tahu, bahwa puisi ini memang kutulis untukmu. :)

Jumat, 17 April 2015

Kita Dan Realita

Kita seringkali membicarakan kelak,
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
 yang harus diterima kepala.                                                                                                                                                   
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.                                                                                                                                                 
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan  kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.                                                                                                                                                               
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.

Senin, 13 April 2015

Kehendak hati, aku bisa apa?

Hujan turun lagi di tempat ini.
Membasahi tanah setelah kemarau panjang yang melukai hari.
Mirip dirimu yang datang saat aku diserang sepi.
Hadir dalam keringnya hati.
Mungkin kau tak pernah ingin mengerti.
Setidaknya kau harus tau dirimu selalu menjadi obat hati.
Resah dalam hati melanda saat ku berdiri melepas kau pergi.
Aku tak takut jarak, tak takut pula waktu yang membagi sepi.
Hanya ada sebesit kerinduan untuk menggengam tangannya.
Tanganmu yang lembut, yang mampu mengobati segala curiga maupun luka.
Saat sedih menghampiri.
Hujan badai tak segan menghantui.
Aku hanya mampu berdiri menanti.
Memandang langit, sampai kau datang bersama pelangi.
Apa aku salah menunggumu?
Saat aku lelah, aku semakin kuat, kuat dan terus bertahan.
Apa kah kau sama sepertiku?
Saat ku memeluk cinta, kaupun mendekapnya lebih erat & lebih kuat.
Apa aku bodoh menantimu?
Apa aku terlalu mengharapkanmu?
Atau memang inilah pelangi yang kutunggu-tunggu?
Ini kehendak hati, aku bisa apa?