Next

Jumat, 17 April 2015

Kita Dan Realita

Kita seringkali membicarakan kelak,
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
 yang harus diterima kepala.                                                                                                                                                   
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.                                                                                                                                                 
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan  kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.                                                                                                                                                               
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar