Next

Rabu, 18 Februari 2015

Makanan kesekian



Ibu menyendokkan nasi putih hangat ke dalam tiga piring di depannya.

 Mau lauk apa? Ayam goreng tepung, capcay cumi atau telur dadar?” Ibu menawari kami.adikku si bungsu, menoleh ke arahku. Sepertinya ia minta pertimbangan. “Apapun yang ibu ambilkan, kami pasti habiskan,” Aku tersenyum. Tak pantas aku memilih-milih makanan yang ibu hidangkan pada kami. Apapun itu pasti baik untuk anak-anaknya. Ibu menyodorkan dua piring ke arah kami. “Air putihnya ibu siapkan sekalian ya..” Aku menatap ibu dari tempatku duduk. Sebenarnya, tak perlu ia melakukan ini semua. Toh aku sudah dewasa dan bisa menyiapkan makanku sendiri. Sejak keluarga kami di rundung cobaan, bahka bisa di bilang kini kami benar benar berada di titik NOL, Ibu sering bersikap aneh.
“Bu, harus ya kita pura-pura lagi?” Aku tak tahan untuk menyikapi keanehan ini. Piring berisi nasi kemarin yang dihangatkan di depanku tak akan pernah membuat perut kami kenyang meskipun otak kami berimajinasi tentang menu makanan paling lezat sekalipun. Ibu menatapku sayu. Samar, ia mengangguk. “Kita harus begini. Setidaknya sampai keadaan kembali normal lagi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar