Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit
rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan
beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan
napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan
langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul
berapa akan terus begini.
Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri.
Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu
bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai.
Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.
Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau baik-baik saja disana
dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai
mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya
kita dapat menuntaskan kerinduan ini, Aku juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan
matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang
menunggumu selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum
manja.
Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja
kalau kita sudah saling bertemu. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama.
Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau
dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab
aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar