Next

Selasa, 12 Januari 2016

Tetaplah Berjalan


Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang pandai meredakan amarahmu, dan tetap setia memeluk bahkan di saat kamu berhasil membuatnya marah

Saya tahu tidaklah mudah terlahir menjadi laki-lakai, terlalu banyak hal yang bisa diukur kurang dan lebihnya. Dan saya juga tahu bahwa tidak mudah untuk tetap menjadi dirimu sendiri, ketika hampir seluruh dari isi bumi ini senantiasa memeluk kepalsuan dalam hidup mereka. Saya pun pernah berdiri menjadi pria kecil itu, yang begitu takut ditinggalkan dan terlupakan–hanya karena belum dirasa cukup baik. Itu kenapa hingga di detik saya menulis kalimat ini, saya tidak pernah merasa kata ‘baik’ adalah kata yang sebaiknya diciptakan.
Ada hari di mana hidup membuat saya tidak lagi percaya bahwa masih ada ketulusan yang mampu hadir di hati seseorang dan tumbuh menjadi bagian dari dirinya. Karena setiap hal yang diberi, adalah setiap hal yang kelak harus ditukar oleh sesuatu. Dan selalu begitu. Siapa yang masih bersedia menyayangi hanya karena ingin menyayangi saja, dan siapa yang masih bersedia memberi hanya karena ingin berbagi saja–adalah pertanyaan besar yang selalu membuat lubang di hati saya. Well, kamu boleh menyebut saya drama Prince, but still, it happens all the time. Semakin saya tumbuh dewasa, semakin sulit saya menemukan manusia baik hati (seperti Patrick dan Spongebob) yang (walau pun mungkin bodoh tapi) senantiasa membawa ketulusan dalam
pelukan mereka.
Bahwa jangankan teman baik, bahkan mereka yang darahnya sama mengalir saja bisa pergi–bila kita dianggap tidak cukup pantas untuk diakui sebagai teman atau keluarga. Sedihnya lagi, saat itu harus terjadi, maka akan menjadi hal yang aneh bila kita tidak bisa menerima keputusan mereka. Karena dunia yang kita pijak saat ini telah membenarkannya sebagai keputusan yang ‘wajar saja’.
***
Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang akan dengan senang hati mendengarkan ceritamu bahkan bila isinya hanyalah tentang bagaimana kamu harus basah kuyup karena lupa membawa jas hujan saat mengendarai motor. Berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang tidak suka beralasan ‘aku nggak sempet  ngasih kabar, karena tadi buru-buru banget’, di setiap kali kamu khawatir hingga harus memastikan keberadaannya. Karena kalau bagi saya, tidak pernah ada hal yang bisa tidak sempat untuk dilakukan, bila memang menyediakan waktu untuk hal tersebut adalah hal yang dibutuhkan. That’s why I don’t wanna be the ‘right thing’. I want to be a choice. Saya selalu ingin diperhatikan dan disayangi bukan karena itu adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan saya. Saya ingin dia melakukannya, karena dia memang butuh untuk melakukannya. Karena tanpa menyayangi saya hidupnya tidaklah seutuh yang seharusnya, karenanya dia memilih untuk menyayangi saya.
Sayang adalah sesuatu yang tidak akan pernah memberatkanmu–karena bila pun nyatanya berat, kamu akan tetap ingin melakukannya–karena melakukannya adalah hal yang selalu berhasil membuatmu bahagia (pada akhirnya). Saya tidak bertanya apakah kamu bahagia hari ini, karena saya merasa itu adalah hal yang harus saya lakukan (sebagai pasanganmu). Saya bertanya, karena saya yang membutuhkannya. Saya butuh tahu apakah bahagiamu cukup hari ini, karena mengetahuinya adalah hal yang membuat saya lega. Sayang tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi pasangan yang pandai menghitung untung dan rugi dari mencintai setiap kelemahan yang ditemukan. Karena sayang adalah hal yang akan mengusahakan segala untuk tetap tinggal–selama hal yang harus dihadapi bukanlah penghianatan atau kebohongan.

Karenanya berjalan-lah hingga kelak bertemu dengannya, berjalan-lah dengan tetap teguh bertahan menjadi manusia baik hati–sebanyak apa pun kepedihan yang harus singgah di kedua bola matamu.

Kamis, 13 Agustus 2015

Ya saya rindu

Saya sedang rindu berbincang dengan perempuan yang bisa membuat saya ingin terus membicarakan banyak hal dengannya.

Saya sedang rindu makan dengan perempuan yang bisa membuat saya nyaman menambah nasi di piring saya–tanpa takut kalau besok celana saya mulai sempit.

Saya sedang rindu nonton dengan perempuan yang bisa duduk diam dan sabar di sisi saya–walau mungkin film yang kami tonton itu tidak menarik baginya

Saya sedang rindu berdiam dengan perempuan yang memahami bahwa hening tak selamanya sendirian. Karena kami terbiasa hening sembari membaca buku kesukaan kami masing-masing.

Saya sedang rindu dengan kamu yang lebih suka jalan jalan dan berburu makanan

Saya sedang rindu kamu yang tak perlu lagi diingatkan untuk berdoa pada Tuhan.

Iya. Saya. Rindu. Kamu.

perempuan paling spesial di mata saya saat ini

Jumat, 08 Mei 2015

Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.
Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  
Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 
Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 
Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.