Ini Bodoh, bila saya biilang saya tidak lagi menyayangimu.
Saya menyayangimu, mungkin sangat menyayangimu.
Ini Bodoh , bila saya tidak bilang saya tidak lagi
merindukanmu. Saya rindu, mungkin sangat rindu hingga tak perlu mengatakannya.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak cemburu. Saya cemburu.
Mencemburui bahkan pada setiap oksigen yang bisa sedekat itu dengan nyawamu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak ingin kamu. Saya ingin.
Mungkin sangat ingin hingga mulai kelelahan menggapaimu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tanpamu saya akan baik-baik
saja. Tentu saja 'tanpamu' bukanlah waktu yang baik untuk dilalui.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya akan tetap
mengejarmu. Bila kamu bahkan tidak sedang atau setidaknya berjalan mengarah
kepada saya.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya bahagia begini.
Ketika bahkan kamu, tidak memeluk setiap ketulusan yang saya beri dengan
pantas.
Cinta, bukan soal kepandaian menilai,
Ketika kamu mulai menghitung, kamu kehilangan 'nilai' cinta itu
sendiri. Dan itu adalah saat yang paling
bodoh dalam hal itu.
Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seorang itu hanya perlu terbiasa saja.
Terbiasa di perhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa di kecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karena harusa pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Jangan sampai terlalu sayang, pun jangan sampai terlalu benci.
Karena segalanya, baik benda ataupun manusia. baik luka ataupun luka, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar