Ada hati yang kini mulai retak.
Ingin mengungkapkan, namun kepada siapa?
Bukankah memang ia tak pernah nyata?
Sang terkasih yang hanya bisa kumiliki sebagian saja.
Bahkan ia tak pernah menganggapku ada.
Hanya kepada rasa iba aku bertaruh demi serpihan hati yang telah berserakan.
Kepada kamu, yang menjadikan derita kian terasa.
Kepada kamu, pujaan hati yang pantas untuk dinanti.
Ini aku yang telah menjadi budakmu.
Kau tahu?
Mengejarmu tak semudah menyayat nadi ini hingga ada luka.
Namun, kehilanganmu jauh lebih pedih.
Bantulah aku sedikit saja.
Aku sadar hati ini hanya setengah dalam raga dan kamu pemilik sebagian lagi.
Dan jantungku adalah pusat segala tentangmu.
Memompa namamu dan perasaan dalam tiap nadiku.
:')
Minggu, 22 Maret 2015
Jatuh Cinta
Kadang, perihal cinta selalu penuh canda.
Pernah kau bayangkan betapa bodohnya cinta pada pandangan pertama? Hahaha....
Mugkin mitos belaka.
Namun, salahkah aku ketika harus jatuh cinta?
Untuk yang pertama dalam hidup pada pandangan pertama.
Kurasa ego-ku berkata, "tidak".
Setidaknya, aku sadar inilah cinta.
Cinta manusia yang diawali tatap mata.
Sehingga dapat kurangkai dalam kata-kata.
Bagai kenangan dan bunga-bunga kecil.
Kini diriku sadar, pandanganku menyempit pada sosokmu yang membesar dalam rasa.
Aku pasrah saat lututku mencium lantai.
Demi kau yang menari dalam pikiranku.
Sekejap saja, hanya satu tatapan.
Aku jatuh cinta....
Pernah kau bayangkan betapa bodohnya cinta pada pandangan pertama? Hahaha....
Mugkin mitos belaka.
Namun, salahkah aku ketika harus jatuh cinta?
Untuk yang pertama dalam hidup pada pandangan pertama.
Kurasa ego-ku berkata, "tidak".
Setidaknya, aku sadar inilah cinta.
Cinta manusia yang diawali tatap mata.
Sehingga dapat kurangkai dalam kata-kata.
Bagai kenangan dan bunga-bunga kecil.
Kini diriku sadar, pandanganku menyempit pada sosokmu yang membesar dalam rasa.
Aku pasrah saat lututku mencium lantai.
Demi kau yang menari dalam pikiranku.
Sekejap saja, hanya satu tatapan.
Aku jatuh cinta....
Minggu, 15 Maret 2015
Kepada Jarak
Dengan banyak cemas aku menulis surat ini untukmu. Sulit
rasanya mengetahui kau sakit dan aku hanya bisa memelukmu via suara dan
beberapa pesan singkat saja. Seperti banyak debu di tiap hirupan
napasku. Pantas saja sedari pagi langit mendung dan siang tadi hujan
langsung deras. Sampai sekarang belum berhenti dan entah sampai pukul
berapa akan terus begini.
Aku sedang berhadapan dengan badai di dalam dadaku sendiri.
Ombak yang bergulung-gulung menghantam detak jantung. Kau tahu
bagaimana kapten kapal juga pasti akan pucat pasi jika menghadapi badai.
Ada perasaan kalut setiap kau sakit begitu.
Aku mengatupkan tangan lalu berdoa supaya kau baik-baik saja disana
dan aku juga sesegera mungkin bisa memelukmu, sebelum pasir pantai
mengubur kesedihanmu dan bukan aku. Aku ingin segera menemuimu supaya
kita dapat menuntaskan kerinduan ini, Aku juga ingin mengajakmu ke tepi senja dan menyaksikan
matahari meninggalkan hari dengan perlahan. Kau harus tahu, ada yang
menunggumu selain aku; jingga di cakrawala supaya kau tersenyum
manja.
Kau tak perlu membaca suratku hari ini juga. Nanti saja
kalau kita sudah saling bertemu. Maaf, jarak masih menahanku di sini lebih lama.
Biar hujan yang membawa kangenku dan menyampaikannya kepadamu. Jikalau
dingin atau bahkan terlalu dingin, tersenyumlah sambil bercermin. Sebab
aku selalu menemukan hangat yang paling dari senyumanmu itu.
Langganan:
Postingan (Atom)