Next

Jumat, 17 April 2015

Kita Dan Realita

Kita seringkali membicarakan kelak,
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
 yang harus diterima kepala.                                                                                                                                                   
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.                                                                                                                                                 
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan  kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.                                                                                                                                                               
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.

Senin, 13 April 2015

Kehendak hati, aku bisa apa?

Hujan turun lagi di tempat ini.
Membasahi tanah setelah kemarau panjang yang melukai hari.
Mirip dirimu yang datang saat aku diserang sepi.
Hadir dalam keringnya hati.
Mungkin kau tak pernah ingin mengerti.
Setidaknya kau harus tau dirimu selalu menjadi obat hati.
Resah dalam hati melanda saat ku berdiri melepas kau pergi.
Aku tak takut jarak, tak takut pula waktu yang membagi sepi.
Hanya ada sebesit kerinduan untuk menggengam tangannya.
Tanganmu yang lembut, yang mampu mengobati segala curiga maupun luka.
Saat sedih menghampiri.
Hujan badai tak segan menghantui.
Aku hanya mampu berdiri menanti.
Memandang langit, sampai kau datang bersama pelangi.
Apa aku salah menunggumu?
Saat aku lelah, aku semakin kuat, kuat dan terus bertahan.
Apa kah kau sama sepertiku?
Saat ku memeluk cinta, kaupun mendekapnya lebih erat & lebih kuat.
Apa aku bodoh menantimu?
Apa aku terlalu mengharapkanmu?
Atau memang inilah pelangi yang kutunggu-tunggu?
Ini kehendak hati, aku bisa apa?

Rabu, 25 Maret 2015

Hingga Akhir

Saya tidak memikirkanmu di setiap waktu. Saya memikirkanmu di setiap doa

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu kehilangan dirimu sendiri. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang mempermasalahkan warna kemeja yang kamu pilih. Aku tidak ingin menjadi pasangan yang mempermasalahkan siapa yang lebih banyak mengalah pada siapa. Aku juga tidak ingin menjadi suami yang harus bicara lantang, hanya agar didengarkan oleh anak-anak kita. Kita akan membesarkan mereka tanpa memberi mereka ketakutan pada hidup ini. Berjanjilah padaku.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa kamu sedang dicintai. Bahwa kamu punya rumah yang selalu menunggumu pulang. Bahwa kita selalu memiliki jeda yang bisa kita bagi saat bersama di dalamnya. Becerita tentang seberapa banyak manusia menyebalkan yang kamu temui hari ini, dan berapa jumlah lampu merah yang membuatmu lututmu lelah. Lalu kau akan bercerita tentang kesempatanmu cemberut saat harus mencuci ulang jemuran, karena hujan yang turun saat kau sedang terlelap tidur siang bersama anak kita. Aku ingin kamu tahu, bahwa kau adalah ibu rumah tangga yang berbahagia dengan pilihan hidupnya.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik.
Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa terkadang mengecewakan adalah bagian dari upaya kita bertahan hidup. Bahwa kamu punya aku yang akan tetap mencintaimu walau dalam kemarahanku yang paling pekat. Bahwa kita akan punya waktu untuk saling mengatakan hal buruk yang semestinya diungkapkan. Bahwa kita akan saling belajar memahami, bahwa ada kejujuran yang pahit saat ditelan—namun kita akan menelannya selayaknya obat. Saat kamu pulang kerja terlalu larut dan aku terlalu lelah untuk memakluminya. Dan saat kita berbohong untuk sesuatu yang tidak semestinya dilakukan. Hari di mana kita mengingat bahwa manusia, pada akhirnya hanyalah manusia.

Aku ingin bisa menyayangimu dengan baik. Memberimu cinta yang tidak membuatmu lupa bahwa memaafkan adalah sebenarnya cinta yang bisa kita bagi. Hinga akhir.