Next

Jumat, 08 Mei 2015

Waktu

Waktu adalah hal yang tidak akan pernah kembali. Tidak, walau pun kita berteriak sampai suara kita ikut menghilang, walau kita menangis hingga mata kita enggan untuk terbuka.
Waktu adalah hal yang akan senantiasa berjalan ke depan tanpa ragu. Seberapa pun hati kita penuh dengan kebimbangan untuk melangkah, waktu akan dengan senang hati melindas kita bila kita memutuskan untuk berhenti.  
Saya termasuk manusia yang tidak suka ditunggu. Bagi saya, membuat seseorang menunggu adalah hal yang memalukan. Memalukan bagi diri saya sendiri. Itu kenapa, saya selalu berusaha sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, atau justru lebih dulu sampai dari waktu yang sudah dijanjikan. Karena waktu sangat erat kaitannya dengan menepati sebuah janji. Kita, bahkan bisa menilai kepribadian seseorang dari seberapa baik dia memperlakukan waktu yang berjalan di dalam harinya. 
Saya juga paling tidak suka ditunggu karena saya begitu paham, bahwa menunggu adalah hal yang menyebalkan. Tidak ada seorang pun yang dengan senang hati mau menerima keterlambatan, atau sebuah janji yang diingkari dengan kesengajaan. 
Hidup saya, saya lewati dengan begitu banyak penantian yang menyebalkan. Karena bagaimana pun, sebagian besar manusia memang biasa hidup dengan kemudahan melepas janjinya sendiri. Tapi karena saya cenderung bodoh, saya bisa terus menunggu sampai berjam-jam terlewati. Saya akan terus duduk di tempat yang sama dan mencoba membunuh waktu dengan melakukan hal apa pun yang bisa saya lakukan. Memandangi langit, mengomentari seseorang yang berjalan melewati saya, menatap layar ponsel, membuka kembali notifikasi yang sebelumnya sudah terbuka, atau bahkan mencoba membunuh waktu dengan terus memandangi jam yang terikat di pergelangan tangan saya. Memastikan bahwa bukanlah saya yang sedang berdiri sebagai seseorang yang tidak menepati janjinya sendiri.

Sabtu, 18 April 2015

Senandung malam.

Saat itu, aku ingin sekali bisa membaca isi otakmu, dan mencari, apa ada aku di dalamnya ?
Dan inginku lagi, saat kedua jarum jam sama-sama berada di angka duabelas, aku harap semoga Tuhan menghentikan waktu untukku.
Untuk pertama kalinya, aku tak ingin pagi segera datang, biar, biarkanlah waktu diambil alih oleh malam, sebab aku menikmatinya.
Kau tahu, ternyata waktu ialah hal yang sangat batu, ia tak pernah bisa diajak berkompromi; walau aku mengiba, ia acuh, dan tetap berjalan.
Pada detik kesekian di malam itu, kecupanmu yang berkali mendarat di wajahku, ialah hal yang kupastikan terekam dalam ingatanku, selalu.
Dan aku merasakan panas; aku rasa ada yang telah terbakar, sesaat setelah kecupanmu bertubi-tubi mendarat di tiap jengkal tubuhku.
Malam dan waktu, ialah pasangan paling sempurna, yang menenggelamkan kita dalam suasana.
Kukira jantungku punya kelainan, aku tak bisa mengendalikan degupnya, seketika ia melamban, kemudian teratur, lalu terdengar begitu cepat.
Dan aku mulai curiga, jangan-jangan kamu mengambil alih kendali jantungku?
Jikapun iya, maka bisa kupastikan, degupnya akan berhenti jika kau meninggalkan ruang kendalimu.
Karenanya, kumohon singgahlah, tidak sebentar, dan tidak untuk sementara. Akan kubuatkan rumah untukmu bernaung, di dalam dada kiriku.
Ah, malam memang paling bisa menjadi racun di pikiranku, lihat saja aku, daritadi tak bisa mengendalikan penaku untuk terus menuliskanmu.
Padahal aku hanya minta, agar menit ini, di malam kemarin, untuk diulang kembali, dimana aku begitu menikmati, tenggelam dalam matamu.
Jika memang yang di dalam pikiran dan hatimu itu aku, kau pasti tahu, bahwa puisi ini memang kutulis untukmu. :)

Jumat, 17 April 2015

Kita Dan Realita

Kita seringkali membicarakan kelak,
sebagai harap dan semoga atas nama doa.
Namun waktu telah menyajikan
sebuah kini sebagai realita-realita
 yang harus diterima kepala.                                                                                                                                                   
Kita pernah menyambut pagi bersama,
sebelum malamnya saling menengadahkan tangan
pada sang Kuasa.
Kita meneduhkan terik yang teramat
dengan tawa dan sabit bulan
dalam lengkung bibirmu,
telaga kecil yang menyerupa lesung pipitmu,
mencipta teduh yang lebih.
Kita melukis kebahagiaan di langit senja
melalui atap bianglala.                                                                                                                                                 
Tubuhmu dan aku ialah sepasang belukar,
dan  kita sepakat untuk saling tersesat
di dalamnya, tanpa berusaha membaca peta,
dan keluar sebagai kesedihan
melalui air mata.
Hingga pada suatu entah, setitik jenuh menghampiri
persemadian cinta.                                                                                                                                                               
Sayang…
Mari berbincang di beranda,
sambil merencanakan tentang kaki siapa
yang lebih dulu meninggalkan.
Mari berbisik, mengenai siapa yang lebih dulu bersedih
saat masing-masing dari kita
mulai saling memunggungi.
Dan kemarilah Sayang…
Kita akan menggambar sebuah jalan,
dengan beberapa kelokan, hanya untuk mencoba
menjadi dua kepala
yang logis
akan ancaman kehilangan.