Next

Selasa, 06 September 2016

Kehilangan

Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka tengah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang nyata kamu sayangi.

Sepertinya saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana. Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya–karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahaan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. 

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik saja-an. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang mampu menyembuhkan luka itu. 

Kehilangan memang selalu jadi hal yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satu pun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 
Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa terbiasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut. 

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak mampu menghadapinya? Saya selau percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik. 
Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki. 
Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui. 

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever ini his/her heart. Even when you already dead. 


Kamis, 21 April 2016

Annoying




Ini Bodoh, bila saya biilang saya tidak lagi menyayangimu. Saya menyayangimu, mungkin sangat menyayangimu.
Ini Bodoh , bila saya tidak bilang saya tidak lagi merindukanmu. Saya rindu, mungkin sangat rindu hingga tak perlu mengatakannya.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak cemburu. Saya cemburu. Mencemburui bahkan pada setiap oksigen yang bisa sedekat itu dengan nyawamu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak ingin kamu. Saya ingin. Mungkin sangat ingin hingga mulai kelelahan menggapaimu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tanpamu saya akan baik-baik saja. Tentu saja 'tanpamu' bukanlah waktu yang baik untuk dilalui.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya akan tetap mengejarmu. Bila kamu bahkan tidak sedang atau setidaknya berjalan mengarah kepada saya.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya bahagia begini. Ketika bahkan kamu, tidak memeluk setiap ketulusan yang saya beri dengan pantas.
Cinta, bukan soal kepandaian menilai,
Ketika kamu mulai menghitung, kamu kehilangan 'nilai' cinta itu sendiri. Dan itu adalah saat yang paling  bodoh dalam hal itu.


Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seorang itu hanya perlu terbiasa saja.
Terbiasa di perhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa di kecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karena harusa pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Jangan sampai terlalu sayang, pun jangan sampai terlalu benci.
Karena segalanya, baik benda ataupun manusia. baik luka ataupun luka, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan.

Selasa, 12 Januari 2016

Tetaplah Berjalan


Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang pandai meredakan amarahmu, dan tetap setia memeluk bahkan di saat kamu berhasil membuatnya marah

Saya tahu tidaklah mudah terlahir menjadi laki-lakai, terlalu banyak hal yang bisa diukur kurang dan lebihnya. Dan saya juga tahu bahwa tidak mudah untuk tetap menjadi dirimu sendiri, ketika hampir seluruh dari isi bumi ini senantiasa memeluk kepalsuan dalam hidup mereka. Saya pun pernah berdiri menjadi pria kecil itu, yang begitu takut ditinggalkan dan terlupakan–hanya karena belum dirasa cukup baik. Itu kenapa hingga di detik saya menulis kalimat ini, saya tidak pernah merasa kata ‘baik’ adalah kata yang sebaiknya diciptakan.
Ada hari di mana hidup membuat saya tidak lagi percaya bahwa masih ada ketulusan yang mampu hadir di hati seseorang dan tumbuh menjadi bagian dari dirinya. Karena setiap hal yang diberi, adalah setiap hal yang kelak harus ditukar oleh sesuatu. Dan selalu begitu. Siapa yang masih bersedia menyayangi hanya karena ingin menyayangi saja, dan siapa yang masih bersedia memberi hanya karena ingin berbagi saja–adalah pertanyaan besar yang selalu membuat lubang di hati saya. Well, kamu boleh menyebut saya drama Prince, but still, it happens all the time. Semakin saya tumbuh dewasa, semakin sulit saya menemukan manusia baik hati (seperti Patrick dan Spongebob) yang (walau pun mungkin bodoh tapi) senantiasa membawa ketulusan dalam
pelukan mereka.
Bahwa jangankan teman baik, bahkan mereka yang darahnya sama mengalir saja bisa pergi–bila kita dianggap tidak cukup pantas untuk diakui sebagai teman atau keluarga. Sedihnya lagi, saat itu harus terjadi, maka akan menjadi hal yang aneh bila kita tidak bisa menerima keputusan mereka. Karena dunia yang kita pijak saat ini telah membenarkannya sebagai keputusan yang ‘wajar saja’.
***
Karena itu berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang akan dengan senang hati mendengarkan ceritamu bahkan bila isinya hanyalah tentang bagaimana kamu harus basah kuyup karena lupa membawa jas hujan saat mengendarai motor. Berjalan-lah hingga kelak kamu menemukan dia yang tidak suka beralasan ‘aku nggak sempet  ngasih kabar, karena tadi buru-buru banget’, di setiap kali kamu khawatir hingga harus memastikan keberadaannya. Karena kalau bagi saya, tidak pernah ada hal yang bisa tidak sempat untuk dilakukan, bila memang menyediakan waktu untuk hal tersebut adalah hal yang dibutuhkan. That’s why I don’t wanna be the ‘right thing’. I want to be a choice. Saya selalu ingin diperhatikan dan disayangi bukan karena itu adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan saya. Saya ingin dia melakukannya, karena dia memang butuh untuk melakukannya. Karena tanpa menyayangi saya hidupnya tidaklah seutuh yang seharusnya, karenanya dia memilih untuk menyayangi saya.
Sayang adalah sesuatu yang tidak akan pernah memberatkanmu–karena bila pun nyatanya berat, kamu akan tetap ingin melakukannya–karena melakukannya adalah hal yang selalu berhasil membuatmu bahagia (pada akhirnya). Saya tidak bertanya apakah kamu bahagia hari ini, karena saya merasa itu adalah hal yang harus saya lakukan (sebagai pasanganmu). Saya bertanya, karena saya yang membutuhkannya. Saya butuh tahu apakah bahagiamu cukup hari ini, karena mengetahuinya adalah hal yang membuat saya lega. Sayang tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi pasangan yang pandai menghitung untung dan rugi dari mencintai setiap kelemahan yang ditemukan. Karena sayang adalah hal yang akan mengusahakan segala untuk tetap tinggal–selama hal yang harus dihadapi bukanlah penghianatan atau kebohongan.

Karenanya berjalan-lah hingga kelak bertemu dengannya, berjalan-lah dengan tetap teguh bertahan menjadi manusia baik hati–sebanyak apa pun kepedihan yang harus singgah di kedua bola matamu.