Next

Selasa, 15 November 2016

Seperti ini KAU terekam di kepalaku

Seperti rintik gerimis pertama yang jatuh ke tanah musim semi
Seperti desir angin hangat yang terbang landai dari barat daya, lalu lembut menerpa wajah kita
Seperti sinar mentari yang menerobos sela-sela ranting pepohonan di hutan hujan
Seperti toko kecil yang setia buka di tengah badai salju
Seperti itulah kau terekam di dalam kepalaku saat kita pertama kali bertemu
Seperti hujan deras yang jatuh ke tanah berlumpur, membuat siapa pun tak ingin pergi kemana-mana
Seperti desir angin dingin yang terbang kencang dari timur laut, menerbangkan hati siapa saja yang pergi
Seperti matahari yang setia tertutup mendung tebal penuh kemurungan
Seperti bangunan kosong yang sengaja tak diinginkan pemiliknya
Seperti itulah kau terekam di dalam kepalaku saat kita terakhir kali bertemu.

Terima kasih untuk semua kenangan yang telah kau ciptakan
Terima kasih untuk semua kasih sayang yang telah kau curahkan
Semoga kelak kau mendapatkan semua apa yang kau harapkan,

Selasa, 06 September 2016

Kehilangan

Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka tengah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang nyata kamu sayangi.

Sepertinya saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana. Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya–karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahaan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. 

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik saja-an. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang mampu menyembuhkan luka itu. 

Kehilangan memang selalu jadi hal yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satu pun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapatkan sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 
Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa terbiasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut. 

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak mampu menghadapinya? Saya selau percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik. 
Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dari memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki. 
Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui. 

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever ini his/her heart. Even when you already dead. 


Kamis, 21 April 2016

Annoying




Ini Bodoh, bila saya biilang saya tidak lagi menyayangimu. Saya menyayangimu, mungkin sangat menyayangimu.
Ini Bodoh , bila saya tidak bilang saya tidak lagi merindukanmu. Saya rindu, mungkin sangat rindu hingga tak perlu mengatakannya.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak cemburu. Saya cemburu. Mencemburui bahkan pada setiap oksigen yang bisa sedekat itu dengan nyawamu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tak ingin kamu. Saya ingin. Mungkin sangat ingin hingga mulai kelelahan menggapaimu.
Ini Bodoh, bila saya bilang tanpamu saya akan baik-baik saja. Tentu saja 'tanpamu' bukanlah waktu yang baik untuk dilalui.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya akan tetap mengejarmu. Bila kamu bahkan tidak sedang atau setidaknya berjalan mengarah kepada saya.
Tapi ini lebih bodoh, bila saya bilang saya bahagia begini. Ketika bahkan kamu, tidak memeluk setiap ketulusan yang saya beri dengan pantas.
Cinta, bukan soal kepandaian menilai,
Ketika kamu mulai menghitung, kamu kehilangan 'nilai' cinta itu sendiri. Dan itu adalah saat yang paling  bodoh dalam hal itu.


Mungkin memang benar, kalau membenci dan menyayangi seorang itu hanya perlu terbiasa saja.
Terbiasa di perhatikan maka lama-lama jadi sayang, terbiasa di kecewakan maka lama-lama pun bisa tumbuh kebencian.
Karena harusa pandai memilah-milah apa-apa yang jadi kebiasaan kita selama ini.
Jangan sampai terlalu sayang, pun jangan sampai terlalu benci.
Karena segalanya, baik benda ataupun manusia. baik luka ataupun luka, bisa tiba-tiba hilang begitu saja dari pandangan.