Next

Sabtu, 31 Januari 2015

Surat Rindu Untuk Nonaku

Would you mind if I told you I loved you tonight..
Coz it seems when you close to me, it’s gonna be alright..
Kutulis surat ini sambil kudengarkan suara serak John West dari ponselku. Aku merindumu, Nona. Sudah lebih dari satu bulan aku tak melihatmu secara langsung, dan pesanmu –yang selalu kutunggu– tak juga muncul di kotak pesan masuk.
Aku merindumu. Sungguh.
Tadi, aku sempat berjalan-jalan ke pusat kota. Pertengahan Juli depan ulang tahunmu. Aku berencana membelikanmu sebuah hadiah. Bukan, bukan kalung berlian atau tas merk amat mahal itu. Mungkin hanya sebuah beruang Teddy yang nyaman kau peluk nantinya. Dibungkus dengan kain kasa berwarna ungu kesukaanmu, dengan pita besar warna merah jambu. Cukup manis kurasa. Ah, semoga kau suka.
Nona, aku juga sempat ke Rumah makan cepat saji kita di sarinah. Sekedar menikmati suasana. Aku duduk di meja tempat kita biasa habiskan waktu di sini. Memesan dua jenis minuman, satu coklat panas untukmu dan satu kopi hitam untukku. Tahukah kamu, aku terkekeh saat mesin pemutar musik di rumah makan ini memutarkan lagu Lost michael buble.
Di rumah makan ini juga aku melihat kekasihmu. Pria tampan yang biasanya klimis itu kini sedikit tampil lain. Ada kumis tipis di wajahnya . Entah kau makin suka atau malah menganggapnya dekil. Aku melihatnya sendirian, di tepi jendela. Ia tampak sibuk melihat orang yang berlalu lalang di luar, tapi lebih sering pandangannya kosong.
Aku sempat menanyakan kabarnya. Ia menjawab, ia sedang merindumu. Ah, sama juga sepertiku. Katanya, kau sibuk dengan kekasihmu yang lebih dulu memilikimu, setahun lima bulan lalu. Aku sempat tertegun menghitung jumlah bulan kebersamaan kita. Satu, dua, ah baru tiga bulan ternyata.
Melihat mata lelaki itu, rinduku kian menggebu. Dada ini terasa semakin sempit. Ada sesuatu yang memenuhi ruang di dalamnya.
Nona, kapan kau akan membalas pesanku? Berkali-kali kucoba menghubungimu, tapi tak pernah ada nada sambung di ujung sana. Tidakkah sedikit pun merinduku?
Tak terasa sudah hampir senja.  Aku ingin melanjutkan perjalanku, Nona. Aku ingin menikmati senja di taman kota, seperti ritual kita. Tapi kali ini tanpa genggaman tangan seperti kita dahulu.
Oh iya, sudahkah kuberi tahu di  mana aku bertemu kekasihmu di rumah makan itu? Aku bertemu dengannya di toilet. Cermin toilet, tepatnya. Tenang, tak ada yang tahu. Ini rahasia kami yang kuputuskan untuk memberitahumu –tentu seizin dia.
Nona aku merindumu. Entah berapa banyak kata rindu yang harus kutulis untukmu. Aku yakin sekali, rinduku tak kalah dengan rindu lelaki-setahun-dua-bulanmu itu.
Semoga kamu segera merinduku. Hubungi aku segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar